news

Karhutla dan Ancaman Asap Beracun, 40 Ribu Balita Tercatat Mengalami ISPA

Kamis, 24 September 2026 | 14:48 WIB
Kabut asap di wilayah terdampak karhutla membuat puluhan ribu balita sesak napas hingga ISPA. (TikTok/its.rehanbesett - Threads/emshihab)

Seorang warganet yang berprofesi sebagai penjual air purifier mengaku menerima banyak pesanan dari wilayah Kalimantan.

Menurutnya, sebagian pembeli menyampaikan bahwa alat tersebut dibutuhkan untuk melindungi anak, termasuk bayi, dari paparan asap.

“Aku dapat orderan air purifier dari Kalimantan semua dan curhatnya selalu bilang, ‘Cepat kirim kak, di rumah ada anak bayi.’ Baca itu rasanya nangis banget,” tulis akun @sot*******r.

Kemenkes Catat 174.694 Kasus ISPA

Di tengah banyaknya keluhan masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mencatat tingginya kasus ISPA di wilayah yang terdampak karhutla.

Data Kemenkes periode 18 Agustus hingga 21 September 2026 menunjukkan terdapat 174.694 kasus ISPA di tujuh provinsi prioritas penanganan karhutla.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 40.363 kasus dialami balita.

Baca Juga: 12 Tahun Menikah, Sara Wijayanto Resmi Gugat Cerai Demian Aditya di PA Jakarta Selatan

Tujuh provinsi yang masuk dalam data tersebut yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan kasus tersebut terbagi antara pasien balita dan kelompok usia di atas balita.

“Ini kita kategorikan untuk balita dan di atas balita. Untuk kasus balita itu ada sekitar 40.363 pasien atau kasus. Nah, ini semua terdampak dari data 7 provinsi,” ujar Then Suyanti.

Paparan asap karhutla tidak hanya berpotensi mengganggu sistem pernapasan. Masyarakat juga dapat mengalami iritasi pada mata yang ditandai dengan mata merah, gatal hingga terasa perih.

Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya, termasuk penyakit jantung, stroke dan tekanan darah, khususnya pada kelompok lanjut usia.

Baca Juga: DNA Ungkap Identitas Jenazah Pulau Enggano, Surakman Ternyata ABK Arupadhatu 1

Then menjelaskan bahwa asap hasil pembakaran mengandung partikel halus PM2,5 serta sejumlah polutan lain yang dapat masuk dan mengganggu sistem pernapasan.

Dalam paparan berulang atau berlangsung dalam waktu tertentu, kondisi tersebut dapat memicu gangguan pernapasan, mulai dari ISPA hingga memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah diderita.

Halaman:

Tags

Terkini