INSIBERNEWS - Kepanikan yang sempat melanda masyarakat pesisir akibat beredarnya isu tsunami pasca-erupsi Gunung Anak Krakatau akhirnya diredam oleh pemerintah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara tegas membantah narasi menyesatkan yang menyebutkan adanya potensi gelombang raksasa di perairan Selat Sunda.
Bantahan tersebut bukan sekadar isapan jempol, melainkan bersandar pada data pengamatan yang akurat di lapangan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjamin bahwa hingga saat ini tidak ditemukan satu pun indikasi ketidakwajaran pada permukaan air laut yang mengarah pada ancaman tsunami.
"Pada pagi ini kami sampaikan bahwa berdasarkan hasil pemantauan di kondisi laut ya di sekitar Selat Sunda belum ada tanda-tanda anomali untuk tsunami baik dari 20 tide gauge yang di BMKG maupun radar maritim di sekitaran situ,"
Pemantauan tinggi muka air laut di kawasan rawan tersebut terus berjalan tanpa henti selama 24 jam penuh secara seketika atau real-time.
Tim ahli menyiagakan puluhan sensor pengukur pasang surut (tide gauge) dan memaksimalkan jangkauan radar maritim yang tersebar di berbagai titik strategis.
Berkat instrumen pemantau canggih tersebut, seluruh parameter oseanografi dipastikan masih berada pada ambang batas wajar dan aman.
Fakta kuat di lapangan ini sekaligus mematahkan rasa waswas warga yang bermukim di pesisir Banten hingga Lampung terkait ancaman gelombang pasang.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Selimuti Jakarta dan Jabar, Berikut Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Menyikapi derasnya arus informasi palsu yang tak terbendung, BMKG mengimbau masyarakat luas untuk selalu berpikir jernih dan tidak mudah terprovokasi.
Warga diminta lebih teliti dalam menyaring berbagai potongan video lawas atau pesan berantai berbau hoaks yang sengaja diviralkan di media sosial.
Sebagai langkah mitigasi yang tepat, publik sangat dianjurkan untuk hanya merujuk pada informasi satu pintu dari kanal resmi pemerintah.
Segala pembaruan terkait cuaca dan potensi tsunami dapat diakses lewat rilis BMKG, sementara perkembangan aktivitas vulkanik mutlak menjadi ranah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.***