INSIBERNEWS - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan peringatan tegas kepada para pejabat publik dan pengamat agar lebih bijak dalam menyebarkan informasi terkait badai El Nino.
Ia meminta narasi yang dilempar ke ruang publik tidak sembarangan dan harus berbasis data valid. Kesalahan dalam memaknai prediksi iklim dinilai bisa membawa dampak domino yang sangat merugikan ketahanan pangan Tanah Air.
Menurut Amran, isu kekeringan panjang yang disampaikan dengan nada menakut-nakuti sangat rentan menyerang psikologis para pahlawan pangan di lapangan. Akibatnya, ketakutan tersebut memicu keraguan massal di kalangan petani untuk memulai masa tanam.
Padahal, dengan penanganan yang tepat, aktivitas produksi pertanian pada momen-momen tersebut sebenarnya masih sangat memungkinkan untuk terus dipacu.
Baca Juga: Kecam Keras Promo Miras Berdalih Ayat Suci di Ancol, MUI Jakut Imbau Warga Tak Main Hakim Sendiri
Mentan menyayangkan narasi pesimistis yang kerap kali membuat petani memilih membiarkan lahannya menganggur demi menghindari kerugian, padahal pemerintah sangat membutuhkan pasokan.
Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak menahan diri untuk tidak mengeluarkan ramalan cuaca yang justru memperkeruh suasana dan merugikan negara.
"Ini harus hati-hati kalau berbicara di publik, apalagi pejabat publik dan pakar. Jangan menyampaikan informasi yang kepastiannya rendah. Itu menyusahkan kita di lapangan. Kalau petani percaya, mereka langsung berhenti menanam. Ini sangat berbahaya dan membuat kita kesulitan di lapangan selama berbulan-bulan," ujar Amran mengutip tayangan Primetime News di Metro TV, Kamis (13/8/2026).
Meski memberikan teguran, Amran juga membawa kabar penyejuk untuk menenangkan masyarakat luas yang khawatir soal pangan.
Ia memastikan bahwa pemerintah pusat bersama para petani di berbagai pelosok nusantara sejatinya sudah memiliki bekal kesiapan yang matang.
Berbagai langkah mitigasi, mulai dari pompanisasi hingga penyediaan benih unggul tahan cuaca, telah dirancang dan berjalan efektif sejak tahun 2024 lalu.
Rasa optimisme ini juga didasari oleh rekam jejak kementerian dalam menanggulangi krisis iklim yang jauh lebih parah di masa lampau.
Infrastruktur pertanian yang semakin modern diyakini mampu menjadi benteng kokoh dalam menjaga pasokan beras dan komoditas lainnya tetap aman terkendali. Pengalaman masa lalu terbukti telah membentuk mental dan strategi lapangan yang lebih tangguh.
"Dulu kita pernah menghadapi El Nino yang kuat, waktu periode pertama saya menjadi menteri, yakni pada tahun 2015-2016. Alhamdulillah, saat itu kita selamat," tegas Amran mengenang keberhasilannya menjaga stabilitas pasokan pangan di tengah ancaman kekeringan yang hebat.***