INSIBERNEWS - Anggota DPR RI Komisi VIII, Atalia Praratya, mengkritik lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang diciptakan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein.
Menurutnya, isi lirik lagu tersebut mengandung narasi yang merendahkan perempuan dan bertentangan dengan semangat kesetaraan gender.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @ataliapr, yang dikonfirmasi pada Rabu, Atalia menyampaikan keprihatinannya terhadap pesan yang terkandung dalam lagu tersebut.
Baca Juga: Ketika UU Pers Bertemu Era TikTok: Masih Relevankah Regulasi yang Dibuat pada 1999?
Ia menilai karya itu tidak sekadar menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga mencerminkan cara pandang yang berpotensi memperkuat budaya patriarki.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?," tulis Atalia dalam unggahannya.
Politikus tersebut mengungkapkan bahwa dirinya telah mencoba memaknai lagu tersebut dari berbagai sudut pandang. Namun, ia mengaku tidak menemukan bagian yang menurutnya menunjukkan penghormatan terhadap perempuan.
Baca Juga: Hakim Ngacir Usai Bacakan Vonis Nadiem Makarim, Pengacara Protes: Kenapa Buru-buru, Takut?
"Saya tidak habis pikir. Se-positif apa pun saya mencoba memahami lagu ini, saya tidak menemukan ruang untuk menganggap liriknya sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," ujarnya.
Atalia juga mempertanyakan alasan dipilihnya diksi dan pesan dalam lagu tersebut. Padahal, menurutnya, Bahasa Sunda memiliki kekayaan kosakata yang sarat makna dan nilai-nilai kehidupan yang lebih membangun.
Ia menegaskan bahwa budaya Sunda selama ini dikenal menjunjung tinggi filosofi silih asih, silih asah, silih asuh, serta silih wawangi.
Baca Juga: Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 2295 Orang Operasi Penyelamatan Terus Berlangsung
Karena itu, ia menilai tidak tepat apabila karya seni justru menghadirkan narasi yang dianggap menertawakan pengalaman biologis perempuan.
"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Saya percaya Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," tulisnya.