INSIBERNEWS - Kontroversi ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat masih menjadi sorotan publik.
Polemik yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir bahkan menarik perhatian nasional setelah muncul perdebatan terkait penilaian dewan juri pada babak final.
Perselisihan bermula dari keputusan penilaian terhadap jawaban yang dinilai memiliki substansi serupa antara tim dari SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas. Dalam proses tersebut, juri diketahui memberikan tambahan poin kepada SMAN 1 Sambas sekaligus melakukan pengurangan nilai terhadap SMAN 1 Pontianak.
Keputusan itu membuat SMAN 1 Sambas ditetapkan sebagai juara dan berhak mewakili Kalimantan Barat pada LCC 4 Pilar MPR RI tingkat nasional.
SMAN 1 Sambas Tegas Menolak Pertandingan Ulang
Di tengah polemik yang terus berkembang, SMAN 1 Sambas menyampaikan sikap resmi terkait rencana pertandingan ulang yang diwacanakan penyelenggara.
Melalui pernyataan yang diunggah di akun Instagram resmi sekolah dan dikutip pada Minggu, 17 Mei 2026, pihak sekolah menegaskan penolakannya terhadap pelaksanaan final ulang tingkat provinsi.
“SMAN 1 Sambas menolak pertandingan ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat,” demikian isi pernyataan resmi sekolah.
Baca Juga: Diduga Terdesak Utang, Sopir Ekspedisi Kabur Bawa Truk Operasional Milik Majikan
Selain menolak final ulang, pihak sekolah juga meminta penyelenggara segera memulihkan citra dan nama baik SMAN 1 Sambas yang dinilai terdampak akibat polemik yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Minta Pendampingan dan Jaminan Keamanan untuk Siswa
SMAN 1 Sambas menilai perhatian terhadap kondisi psikologis peserta menjadi hal penting menjelang kompetisi tingkat nasional.
Karena itu, sekolah mendesak penyelenggara untuk memberikan pendampingan serta jaminan keamanan bagi para siswa yang akan membawa nama Kalimantan Barat di ajang nasional.
Dalam pernyataannya, pihak sekolah meminta adanya perlindungan terhadap kondisi mental peserta di tengah tekanan opini publik yang terus berkembang.
Baca Juga: BRICS Desak Gencatan Senjata Tanpa Syarat di Gaza, Rekonstruksi Diperkirakan Capai Rp1,2 Kuadriliun