news

Nilai Tukar Rupiah Anjlok ke Rp17,503, Pengamat Soroti Dampak Konflik Selat Hormuz

Selasa, 12 Mei 2026 | 16:53 WIB
Ilustrasi - Nilai Tukar Rupiah Anjlok ke Rp17,503, Pengamat Soroti Dampak Konflik Selat Hormuz (Istimewa)

INSIBERNEWS - Menyoroti nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Selasa siang. Hingga pukul 11.47 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,51 persen ke level Rp17.503 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS.

Pelemahan mata uang Garuda dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang hingga kini masih memanas.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan situasi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar global meski Presiden AS Donald Trump sempat menyebut konflik telah berakhir.

Baca Juga: Terbongkar! Penipuan VCS oleh Napi Berkedok TNI-Polri, Peras Korban hingga Rp1,4 Miliar

Menurut Ibrahim, Amerika Serikat disebut menolak proposal perdamaian dari Iran. Kondisi tersebut memicu munculnya serangan-serangan kecil antar kapal di kawasan strategis jalur distribusi minyak dunia tersebut.

Tak hanya itu, keterlibatan Uni Emirat Arab dalam konflik juga memperkeruh keadaan. Ibrahim menyebut adanya serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, yang semakin meningkatkan tensi geopolitik di kawasan.

Ia menilai situasi tersebut membuat indeks dolar AS menguat cukup signifikan. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia, terutama Brent crude oil, ikut melonjak akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.

Baca Juga: Buntut Kontroversi Penilaian Final, MPR RI Akhirnya Nonaktifkan Juri dan MC LCC Empat Pilar Kalbar

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen dinilai belum cukup kuat menopang penguatan rupiah. Ibrahim menilai pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara kontribusi investasi masih relatif kecil.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, dampak konflik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, tetap menjadi ancaman serius bagi perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Selain tekanan eksternal, kondisi ketenagakerjaan nasional juga dinilai menjadi sentimen negatif bagi pasar. Sepanjang Januari hingga April 2026, sekitar 40 ribu pekerja sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan elektronik dilaporkan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca Juga: Hilang Usai Erupsi Gunung Dukono, Dua Pendaki Asal Singapura Ditemukan Meninggal Tertimpa Batu

Ibrahim memperkirakan gelombang PHK masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan, seiring tekanan terhadap industri manufaktur.

Ia juga menyoroti tingginya jumlah pekerja di sektor informal yang mencapai 87,74 juta orang, lebih besar dibandingkan pekerja formal. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan masih rapuhnya struktur ketenagakerjaan nasional.

Halaman:

Tags

Terkini