Kasus ini kemudian menjadi perhatian Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA). Mereka menyoroti kondisi sosial keluarga Mandala yang dinilai membutuhkan perhatian serius. Bukan semata soal dugaan sakit yang dipicu sepatu sempit, tetapi juga potret nyata tentang bagaimana kemiskinan bisa membuat kebutuhan dasar anak, termasuk kesehatan dan perlengkapan sekolah, tak terpenuhi dengan layak.
Baca Juga: Cegah Kekerasan Seksual, MUI Desak Pengawasan Ketat di Pesantren
TRC PPA menilai kisah Mandala harus menjadi alarm bagi banyak pihak. Anak-anak dari keluarga prasejahtera kerap memendam keluhan karena tak ingin membebani orang tua.
Mereka memilih bertahan, menahan sakit, dan tetap beraktivitas meski tubuh mereka sebenarnya sudah meminta pertolongan. Dalam banyak kasus, kondisi seperti ini sering terlambat disadari hingga berujung tragis.
Sebelum meninggal, Mandala disebut sempat menyampaikan keinginannya untuk memiliki sepatu baru. Permintaan itu terdengar sederhana, bahkan mungkin sepele bagi sebagian orang.
Namun bagi Mandala, sepatu baru adalah kebutuhan yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki. Kini, keinginan kecil itu tinggal menjadi kenangan, menyisakan duka sekaligus pengingat bahwa bagi sebagian anak, hal paling sederhana pun bisa menjadi kemewahan.***