INSIBERNEWS - Pemerintah mengambil langkah tak biasa di tengah gejolak pasar global. Presiden Prabowo Subianto memutuskan memangkas harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen demi menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional, saat harga pupuk dunia justru melonjak tajam akibat krisis pasokan internasional.
Kebijakan ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa sektor pertanian tetap menjadi prioritas utama di tengah tekanan ekonomi global.
Baca Juga: Cegah Kekerasan Seksual, MUI Desak Pengawasan Ketat di Pesantren
Langkah tersebut diumumkan ketika harga pupuk internasional tengah menanjak lebih dari 40 persen dalam waktu singkat. Situasi itu dipicu terganggunya rantai pasok global yang membuat banyak negara mulai khawatir terhadap ancaman krisis pangan.
Di saat negara lain mulai menahan distribusi dan menyesuaikan harga, Indonesia justru memilih menurunkan beban biaya produksi petani.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan keputusan tersebut bukan langkah spontan, melainkan bagian dari antisipasi yang sudah disiapkan sejak awal. Menurutnya, Presiden telah membaca tanda-tanda tekanan global sejak beberapa bulan terakhir dan meminta jajaran kementerian bergerak lebih cepat sebelum dampaknya benar-benar menekan sektor pangan nasional.
Baca Juga: Digrebek Istri! Dosen UIN STS Jambi Ketahuan di Kamar Kos Bareng Mahasiswi, Kini Dinonaktifkan
“Presiden Prabowo sejak awal sudah membaca bahwa dunia sedang menuju periode yang tidak stabil.”
“Beliau memerintahkan kami untuk tidak menunggu krisis datang, tapi menjemputnya dengan kebijakan.”
Tekanan global itu bukan tanpa sebab. Sejak Februari 2026, konflik di Timur Tengah memicu penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini dilalui sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia.
Dalam waktu hampir bersamaan, China juga menghentikan ekspor pupuk nitrogen utama. Kombinasi dua faktor ini membuat harga urea internasional melonjak tajam dan memicu kekhawatiran di banyak negara yang masih bergantung pada pasokan impor.
Baca Juga: Kritik Amien Rais ke Prabowo dan Seskab Teddy Viral, Kepala Bakom Qodari Ingatkan Bahaya Hoax
Kondisi tersebut membuat sejumlah negara di Asia Tenggara mulai menghadapi ancaman serius terhadap produksi pangan mereka. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor pupuk, seperti Filipina dan Thailand, disebut mulai menghadapi tekanan biaya tanam yang semakin berat.
Indonesia dinilai berada dalam posisi yang lebih aman karena memiliki kapasitas produksi domestik yang lebih kuat, ditopang pasokan bahan baku dan kebijakan subsidi yang tetap dijaga.