INSIBERNEWS - Ketegangan di kawasan Lebanon selatan kembali memanas setelah kelompok Hizbullah melancarkan serangkaian serangan terhadap pasukan Israel Defense Forces (IDF).
Aksi ini disebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata oleh pihak Israel.
Dalam pernyataan resminya pada Rabu (22/4), Hizbullah mengklaim telah melakukan empat operasi militer terpisah.
Baca Juga: Hati-hati! Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Disebut Bisa Rusak Otak hingga Ginjal
Salah satu aksi yang paling disorot adalah keberhasilan mereka menembak jatuh empat drone pengintai Israel yang terbang di atas wilayah Desa Mansouri.
Selain itu, serangan juga dilaporkan terjadi di dua lokasi lain, yakni Desa Qantara dan Desa Bayada. Di Qantara, sebuah drone bunuh diri disebut menghantam kendaraan jenis SUV yang ditumpangi perwira militer Israel.
Situasi ini semakin mempertegas eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, meskipun sebelumnya telah ada kesepakatan penghentian sementara pertempuran.
Baca Juga: RI Gandeng Polandia, Kerja Sama Pertanian Didorong untuk Hadapi Ancaman Pangan Global
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sebelumnya telah mengingatkan bahwa gencatan senjata harus dijalankan secara menyeluruh oleh kedua belah pihak. Dalam pernyataannya pada Sabtu (18/4), ia menegaskan bahwa tidak boleh ada penerapan sepihak.
“Gencatan senjata tidak bisa hanya dijalankan oleh satu pihak saja,” ujarnya.
Qassem juga menekankan bahwa pihaknya siap merespons setiap bentuk pelanggaran yang terjadi di wilayah Lebanon selatan.
Baca Juga: Heboh 19 Ribu Sapi untuk MBG, Kepala BGN Klarifikasi: Cuma Simulasi, Bukan Kebutuhan Nyata
Ia menyebutkan lima poin utama yang menjadi tuntutan Hizbullah, yakni penghentian total pertempuran, penarikan penuh pasukan Israel, pembebasan tahanan, pemulangan warga yang mengungsi, serta rekonstruksi dengan dukungan internasional.
Lebih lanjut, Qassem menegaskan bahwa Hizbullah masih memiliki kekuatan dan belum terkalahkan. Ia menyatakan komitmen kelompoknya untuk terus memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Lebanon.