INSIBERNEWS - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ali Mohammad Naini, dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kabar tersebut pertama kali disampaikan oleh kantor berita pemerintah Iran, Tasnim News Agency, pada Jumat (20/3/2026).
Dalam laporannya, Naini disebut “gugur sebagai martir” setelah menjabat sebagai juru bicara IRGC sejak tahun 2024.
Baca Juga: Bukan Hasil AI, Polisi Bongkar Identitas Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus dari CCTV
Istilah martir sendiri merujuk pada seseorang yang rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan keyakinan atau prinsip yang dianutnya.
Melalui pernyataan resmi di situs Sepah News, pihak IRGC mengonfirmasi bahwa Naini tewas akibat serangan yang mereka sebut sebagai “aksi teror pengecut” oleh Amerika Serikat dan Israel.
Serangan Beruntun di Kawasan Teluk dan Israel
Situasi keamanan di kawasan semakin memburuk setelah serangkaian insiden terjadi hampir bersamaan.
Pada Jumat pagi, sebuah kilang minyak di Kuwait dilaporkan menjadi target serangan drone Iran. Di sisi lain, sirene peringatan berbunyi di Israel sebagai tanda adanya ancaman serangan masuk.
Tak hanya itu, ledakan juga terdengar di langit Teheran akibat serangan yang dikaitkan dengan Israel.
Konflik yang kini memasuki minggu ketiga ini terus memberikan dampak besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Iran disebut belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan, khususnya terhadap infrastruktur energi di wilayah Teluk.
Baca Juga: Konten SPPG Cilacap Dinilai Tone Deaf, Ustadz Hilmi: Jangan Bandingkan MBG dengan Krisis Palestina!
Dalam pernyataan yang jarang disampaikan ke publik, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa musuh-musuh Iran harus kehilangan rasa aman.