Ia menyampaikan penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.
Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala SPPG Sidanegara 2 Cilacap, Hanif. Ia menegaskan bahwa penderitaan masyarakat di Palestina tidak seharusnya dibandingkan dengan kondisi apapun, serta mengucapkan terima kasih atas kritik yang diberikan masyarakat.
Respons Warganet: Dinilai Minim Empati
Di sisi lain, reaksi keras datang dari warganet yang menilai konten tersebut tidak memiliki empati. Banyak yang menilai perbandingan antara program bantuan dalam kondisi normal dengan krisis kemanusiaan adalah tidak relevan dan tidak sensitif.
Baca Juga: Program Mudik Bersama BUMN dan ESDM, ANTAM Berangkatkan 500 Pemudik
Sejumlah komentar menyoroti bahwa penggunaan tragedi kemanusiaan sebagai materi konten dinilai tidak etis dan berpotensi menyinggung banyak pihak.
Beberapa pengguna media sosial juga mengingatkan pentingnya membangun narasi yang lebih bijak, tanpa harus membandingkan dengan kondisi ekstrem seperti konflik atau bencana.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan konten, terutama oleh institusi publik, harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Sensitivitas terhadap isu global dan kemanusiaan menjadi hal yang krusial di era digital saat ini.
Kesalahan dalam menyusun narasi bukan hanya berdampak pada citra institusi, tetapi juga dapat melukai perasaan banyak orang. ***