news

ANTAM Upayakan Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa Melalui Garitan Kalongliud

Senin, 23 Februari 2026 | 10:53 WIB
ANTAM Upayakan Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa Melalui Garitan Kalongliud (Istimewa)

Pada periode budidaya cabai 2024–2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan sebesar Rp246.258.000. Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34, yang berarti setiap satu rupiah investasi menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah.

Transformasi di Kalongliud tidak hanya terjadi pada aspek produksi, tetapi juga pada struktur sosial ekonomi desa. Sebelum program berjalan, petani cenderung bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak. Biaya produksi relatif tinggi, sementara serangan hama keong kerap merusak lahan budidaya.

Kini, petani terorganisir dalam empat kelompok tani resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar, memperkuat akses distribusi dan posisi tawar petani. Inovasi lokal pun berkembang, termasuk pemanfaatan keong yang sebelumnya menjadi hama sebagai bahan baku pupuk organik cair.

Baca Juga: Tanggapi Kontroversi Alumni Beasiswa LPDP, Arie Kriting Ingatkan Publik Agar Tak Semudah Itu Berkhianat

Program Garitan Kalongliud juga menjangkau kelompok masyarakat rentan. Tercatat 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung.

Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan termasuk buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin dilibatkan secara aktif dalam sistem ekonomi desa. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program ini mencapai 90,82 persen.

Keberhasilan program tidak terlepas dari peran local hero. Sosok Kang Wahyu dikenal sebagai penggerak utama di tingkat desa, yang bersama masyarakat mendorong adopsi inovasi pertanian dan penguatan kolaborasi komunitas.

Baca Juga: Momen Langka! Imlek, Ramadan, dan Prapaskah Jatuh Secara Berurutan di 2026, Bakal Terulang Lagi di Tahun 2189

Rumah Belajar Garitan yang dibangun di desa tersebut kini berkembang sebagai pusat pembelajaran, telah dikunjungi lebih dari 696 pengunjung lokal dan nasional, serta menjadi model yang mulai direplikasi di desa lain.

Sekretaris Perusahaan PT ANTAM Tbk, Wisnu Danandi Haryanto, menyampaikan bahwa Garitan Kalongliud mencerminkan pendekatan keberlanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial secara utuh.

“Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial. ANTAM meyakini bahwa pendekatan berbasis ekosistem mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Wisnu.

Baca Juga: CCTV Ungkap Aksi Pencurian, Nenek Penjual Nasi Uduk di Kota Bekasi Jadi Korban Kehilangan Uang Rp4 Juta

Menurutnya, model pertanian sirkular yang dikembangkan di Kalongliud diharapkan dapat menjadi referensi bagi penguatan desa berbasis potensi lokal, sekaligus mendukung strategi keberlanjutan perusahaan dalam menjaga stabilitas sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.

Perjalanan Kalongliud menunjukkan bahwa pemulihan desa tidak selalu harus dimulai dari intervensi besar, melainkan dari perancangan sistem yang tepat. Dari lahan tidur yang kembali hidup, desa perlahan membangun ketahanan pangan dan ekonomi dengan pijakan yang lebih berkelanjutan.

Halaman:

Tags

Terkini