INSIBERNEWS - Iran membuka peluang untuk menurunkan tingkat pengayaan uraniumnya apabila Amerika Serikat bersedia mencabut seluruh sanksi ekonomi yang selama ini diberlakukan terhadap Teheran. Sinyal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami.
Eslami menegaskan bahwa langkah pengurangan pengayaan uranium hanya akan dilakukan jika Washington memberikan timbal balik yang jelas berupa pencabutan total sanksi. Menurutnya, keputusan tersebut sangat bergantung pada keseriusan Amerika Serikat dalam mengakhiri tekanan ekonomi terhadap Iran.
Pernyataan ini muncul usai pertemuan tidak langsung antara delegasi Iran dan AS terkait program nuklir Teheran yang digelar di Oman pada Jumat (6/2). Dialog tersebut disebut akan berlanjut ke putaran kedua, meski hingga kini belum ada kepastian jadwal dan lokasi resmi.
Baca Juga: Kebakaran Gudang Kimia Cemari Sungai Cisadane, Perumda Tirta Benteng Pastikan Air Aman
Di sisi lain, Amerika Serikat terus mendesak Iran agar kembali ke jalur perundingan dengan ancaman opsi militer. Sejumlah kapal perang dan jet tempur AS dilaporkan masih bersiaga di kawasan sekitar Iran sebagai bentuk tekanan strategis.
Washington menuntut Iran menghentikan pengembangan nuklirnya. Data Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebutkan Iran saat ini memiliki lebih dari 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat 60 persen, angka yang dinilai mendekati ambang batas senjata nuklir sebesar 90 persen.
Meski demikian, Eslami menegaskan bahwa dalam pembicaraan dengan AS tidak pernah dibahas rencana pengiriman uranium Iran ke luar negeri. Isu tersebut sebelumnya sempat mencuat sebagai salah satu tuntutan Amerika Serikat dalam negosiasi.
Baca Juga: Perahu Pembawa Sound Horeg Tenggelam di Sidoarjo Saat Tradisi Nyadran
Sementara itu, media Iran melaporkan penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Larijani, dijadwalkan melakukan kunjungan ke Oman pada Selasa (10/2). Kunjungan ini bertujuan membahas dinamika regional serta penguatan kerja sama bilateral.
Upaya diplomasi antara Iran dan AS sejatinya telah berlangsung sejak tahun lalu melalui lima putaran perundingan. Namun, proses tersebut menemui jalan buntu akibat perbedaan pandangan terkait batas pengayaan uranium di Iran.
Ketegangan meningkat drastis setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, yang disebut-sebut dilakukan atas dorongan Israel. Pasca-serangan itu, Teheran mengklaim telah menghentikan aktivitas pengayaan uranium, meski klaim tersebut diragukan oleh Israel.
Baca Juga: Dari Stand-Up hingga Podcast, Ini Cara Raditya Dika Mengembangkan Storytelling
Iran sejak awal menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan sipil dan energi damai. Namun, tekanan internasional terus meningkat seiring situasi politik dan keamanan domestik Iran yang memanas sejak akhir Desember lalu.
Presiden AS Donald Trump sempat memperluas tuntutan dengan meminta Iran menghentikan pengembangan rudal balistik. Permintaan tersebut langsung ditolak Teheran, yang meminta Washington tetap fokus pada isu nuklir tanpa mencampurkan agenda lain.