INSIBERNEWS - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah bertemu dengan Perdana Menteri Inggris, Yang Mulia Keir Starmer. Dalam dialognya, Prabowo mengajak Inggris untuk meningkatkan kerja sama lintas sektor dengan Indonesia.
Prabowo menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan Inggris akan memberikan keuntungan nyata bagi kedua negara.
Menurut Prabowo, Inggris merupakan mitra penting bagi Indonesia, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Baca Juga: Bukan di Pati, Begini Alasan KPK Pilih Kudus untuk Periksa Bupati Sudewo
Ia menilai Inggris memiliki keunggulan teknologi dan kekuatan finansial yang dapat saling melengkapi dengan potensi besar Indonesia.
“Kita memandang UK sebagai suatu partner yang nanti bisa juga berpartisipasi di dalam ekonomi kita. Mereka punya teknologi, mereka punya keuangan sangat kuat, mereka berminat untuk investasi di Indonesia, dan kita merasa bisa mendapat manfaat dari teknologi mereka, dari kemampuan keuangan mereka. Jadi saya kira partnership ini akan sangat menguntungkan kedua belah pihak,” ujar Prabowo di Lonong, Inggris, ditulis Rabu (21/1).
Kemitraan pertumbuhan ekonomi Indonesia–Inggris ini mencakup kerja sama lintas sektor yang luas. Mulai dari pengembangan energi terbarukan, kesehatan dan sains, bisnis dan jasa keuangan, ekonomi digital, hingga infrastruktur, transportasi, pendidikan, serta pertanian dan pangan.
Baca Juga: Dokter Spesialis di Daerah Tertinggal Bakal Dapat Tunjangan Sebesar Rp30 Juta per Bulan
Kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang yang saling menguntungkan.
Salah satu fokus utama kerja sama tersebut adalah dukungan Inggris terhadap pengembangan energi hijau di Indonesia. Inggris, yang memiliki keunggulan dalam teknologi energi pasang surut, menyatakan dukungan untuk pengembangan kapasitas energi pasang surut di Indonesia hingga 40 megawatt (MW).
Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dan sejalan dengan rencana Indonesia menambah kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan sebesar 42,6 gigawatt (GW) sebagaimana tercantum dalam RUPTL PT PLN 2025–2034.
Selain itu, kedua negara juga menjajaki kerja sama pengembangan jaringan transmisi listrik terintegrasi berskala besar atau Green Enabling Super Grid untuk wilayah Jawa-Bali dan Jawa-Sumatera yang berbasis energi terbarukan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Dalam dokumen EGP yang dipublikasikan pada Selasa (20/1), Indonesia dan Inggris menyambut baik peningkatan peran lembaga keuangan dan sektor swasta dalam mendukung transisi energi di Indonesia.