INSIBERNEWS - Sebulan telah berlalu sejak banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Tiga provinsi terdampak cukup parah, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan ribuan warga harus kehilangan tempat tinggal dan orang terkasih.
Di Aceh, Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah yang merasakan dampak terberat. Air bah datang tiba-tiba, merendam permukiman warga, merusak rumah, serta memutus akses dan aliran listrik selama berhari-hari.
Salah satu kisah yang menyita perhatian datang dari seorang warga Aceh Tamiang yang membagikan pengalamannya melalui media sosial. Ia merekam detik-detik ketika banjir hampir menenggelamkan rumah yang ditempatinya bersama sejumlah orang lain.
Baca Juga: Dokter Detektif Tak Ditahan Meski Jadi Tersangka, Polisi Dorong Jalan Damai dengan Richard Lee
Dalam unggahan video di akun Instagram @adlionksyah, warga tersebut menceritakan banjir mulai masuk ke rumah pada 27 November 2025 sekitar pukul 13.00 WIB. Air terus meninggi dengan arus deras hingga membuat mereka terjebak di lantai dua bangunan kos berukuran sekitar 3x3 meter.
“Air makin naik dan arusnya kuat sekali, kami terjebak di lantai dua, total ada 18 orang di satu kamar kecil,” tulisnya dalam keterangan video.
Ia mengaku kepanikan tak terhindarkan, terlebih saat harus memeluk anaknya di tengah situasi genting.
Baca Juga: Kemhan Bantah Isu Pelantikan Ayu Aulia, Tegaskan Tak Ada Penugasan Resmi
“Pikiran sudah ke mana-mana, waktu itu saya cuma bisa peluk anak saya erat-erat,” lanjutnya.
Karena ketinggian air tak kunjung surut, mereka akhirnya memutuskan naik ke atap rumah meski hujan masih turun dengan deras. Satu per satu, 18 orang memanjat ke atas atap dan bertahan hanya dengan selembar terpal kecil sebagai pelindung.
“Kami naik ke atap dalam kondisi hujan deras, cuma berteduh pakai terpal kecil. Bayi pun harus bertahan di tengah dingin dari siang sampai pagi,” ungkapnya.
Saat malam tiba, situasi semakin mencekam. Listrik padam, lingkungan sekitar gelap gulita, dan suara air masih terdengar deras. Dalam kondisi tersebut, para korban hanya bisa berteriak meminta pertolongan, berharap ada tim penyelamat yang mendengar.
Baca Juga: Natal 2025, Prabowo Ajak Bangsa Bersatu dan Fokus Bantu Korban Bencana Sumatra
“Sampai malam kami teriak-teriak minta tolong, sahut-sahutan dengan korban lain. Anak saya kehujanan, tapi justru tertidur sepanjang malam. Itu momen yang tidak akan pernah saya lupakan,” tulisnya lagi.