news

Pilu Bocah Pengungsi Aceh: Rumah Hancur karena Banjir, Hanya Minta Al-Qur'an Bukan Mainan

Sabtu, 20 Desember 2025 | 17:56 WIB
Tangkapan layar ketika anak-anak Aceh yang lebih memilih Al-Qur'an dibanding mainan saat berada di posko pengungsian. (TikTok/Ikramafro)

INSIBERNEWS - Di tenda pengungsian yang sempit dan panas, masa kecil anak-anak korban banjir di Aceh kini dipenuhi ketabahan dan perjuangan.

Sudah lebih dari tiga minggu mereka meninggalkan rumah yang hancur akibat terjangan banjir bandang. Kehilangan tempat tinggal di usia muda, anak-anak ini harus menyesuaikan diri dengan kehidupan darurat di posko pengungsian.

Melalui unggahan akun TikTok @Ikramafro pada Sabtu, 20 Desember 2025, terlihat percakapan menyentuh antara relawan dan anak-anak yang kini menggantungkan hidupnya di tenda pengungsian. Alih-alih keceriaan bermain, yang tersisa hanyalah kenangan akan rumah yang kini telah hilang.

Baca Juga: Fokus Lindungi Psikologis Korban, SMKN 1 Rembang Buka Suara Soal Video Viral Perundungan Siswa Disabilitas

Bagi para pengungsi cilik ini, waktu berjalan lambat. Hidup di tenda bukanlah hal mudah; mereka harus menahan gigitan nyamuk dan rasa takut yang menghantui setiap malam.

"22 hari (di tenda pengungsian)," ucap salah satu bocah laki-laki dalam video tersebut.

Kehilangan rumah dan lingkungan yang mereka kenal meninggalkan luka batin mendalam. Beberapa dari mereka dengan polos mengungkapkan perasaan mereka.

Baca Juga: Hadir untuk Negeri, BUMN Peduli melalui BRI Tegaskan Komitmen Jangka Panjang Pemulihan Bencana di Sumatera

"Terpukul, kenapa rumah saya tidak ada lagi," kata salah satu anak.

"Sakit hati, karena rumah-rumah orang sudah tidak ada lagi," timpal anak lainnya.

Kondisi tidur mereka pun jauh dari nyaman. Meski mengaku tubuh tidak pegal, ancaman dari lingkungan sekitar seperti ular dan nyamuk menjadi teror tersendiri.

Baca Juga: Viral! Penemuan Diduga Emas di Lumpur Sisa Banjir Bandang Aceh, Warga Terkejut: Bencana Bawa Berkah

"Di tenda (tidur), enggak pegel tapi banyak nyamuk dan takut ada ular," sambungnya.

Yang paling menggetarkan hati adalah ketika ditanya mengenai harapan mereka. Alih-alih meminta mainan atau hiburan, anak-anak ini justru memiliki keinginan yang sederhana namun penuh makna: mendekatkan diri kepada Tuhan di tengah musibah.

Halaman:

Tags

Terkini