Curhat Korban Banjir Aceh Tamiang: Bayi 10 Bulan Terpaksa Bertahan dengan Mi Instan Selama Hari-Hari Darurat

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Sabtu, 20 Desember 2025 | 15:31 WIB
Tangkapan layar saat seorang ibu korban banjir di Aceh Tamiang terpaksa memberi mi instan anaknya selama 11 hari berturut-turut karena bahan makanan yang terbatas.  (TikTok/rindumajalina)
Tangkapan layar saat seorang ibu korban banjir di Aceh Tamiang terpaksa memberi mi instan anaknya selama 11 hari berturut-turut karena bahan makanan yang terbatas. (TikTok/rindumajalina)

INSIBERNEWS - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga menghadirkan cerita kemanusiaan yang mengundang keprihatinan mendalam.

Di tengah genangan air yang belum sepenuhnya surut, sejumlah warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, terutama pangan bagi anak-anak mereka.

Salah satu kisah menyentuh datang dari seorang ibu korban banjir yang membagikan pengalaman pahit keluarganya melalui akun TikTok pribadi @rindumajalina.

Baca Juga: Viral! Penemuan Diduga Emas di Lumpur Sisa Banjir Bandang Aceh, Warga Terkejut: Bencana Bawa Berkah

Unggahan yang dikutip pada Sabtu, 20 Desember 2025 itu memperlihatkan kondisi darurat yang memaksa dirinya mengambil keputusan sulit demi kelangsungan hidup anak-anaknya yang masih balita.

Dalam situasi keterbatasan akses bahan makanan bergizi, sang ibu mengungkapkan bahwa persediaan pangan yang layak hampir tidak tersedia. Bantuan belum merata, sementara kondisi banjir telah berlangsung lebih dari sepekan.

Akibatnya, seorang bayi berusia 10 bulan terpaksa mengonsumsi mi instan sebagai sumber makanan utama.

Baca Juga: TikTok Sepakati Penjualan Bisnis AS, Investor Amerika Jadi Pemegang Saham Mayoritas

“Bayi 10 bulan makan mi instan selama 11 hari,” tulisnya dalam keterangan video yang diunggah.

Mi instan yang bagi sebagian orang hanya dianggap makanan darurat atau pelengkap, justru menjadi satu-satunya pilihan bagi keluarga tersebut. Tidak ada alternatif lain yang bisa diberikan, selain apa yang tersedia di tengah kondisi terisolasi dan minimnya pasokan pangan.

Di balik unggahan itu, tersirat kecemasan mendalam seorang ibu terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anaknya. Pola makan darurat yang jauh dari standar gizi balita menjadi kekhawatiran besar, namun situasi memaksa mereka bertahan dengan segala keterbatasan.

Baca Juga: Min Hee Jin Buka Suara Soal Tuduhan Plagiat ILLIT, Klaim Demi Melindungi NewJeans

Hingga kini, warga terdampak banjir di Aceh Tamiang masih berharap air segera surut dan bantuan, khususnya makanan bergizi untuk bayi dan balita, dapat segera tersalurkan secara merata.

“Entah sampai kapan, sehat-sehat anakku,” tulis sang ibu menutup unggahannya, sebuah doa sederhana yang mewakili harapan banyak keluarga korban banjir lainnya.

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X