Ia kemudian menambahkan,
“Kalau itu tambang rakyat atau ditebang masyarakat, seberapa banyak masyarakat bisa memotong kayu? Tapi kalau sudah ada eskavator, ada bekho, pasti ada pembiaran di sana, ada korporasi yang terlibat, ada penegak hukum yang mendiamkan.”
Baca Juga: Geger! Anak SMP Diduga Menghabisi Nyawa Ibu Kandung di Waktu Subuh, Polisi Masih Selidiki Motifnya
Aulia menyebut adanya “pembiaran sistematis” sebagai kondisi yang membuat kerusakan lingkungan terus berulang. Ia menilai, jika praktik penebangan itu terjadi bertahun-tahun dan tidak ada tindakan dari aparat, maka kemungkinan besar ada aktor-aktor kuat yang ikut bermain.
“Sudah dapat dipastikan terjadi korupsi di sana (Sumatera), patut diduga. Bagaimana mungkin ada pembiaran bertahun-tahun dan tidak ada yang tahu? Kita nggak hidup di ruang hampa,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut bahwa bencana banjir besar yang melanda dua wilayah Sumatera baru-baru ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia yang merusak hutan. Dari penebangan ilegal hingga praktik tambang serampangan, semuanya menurutnya saling berkelindan dan memperparah dampak bencana.
Di akhir, Aulia menegaskan bahwa rantai aktor yang terlibat dalam praktik illegal logging hampir pasti tidak berhenti pada pelaku lapangan saja.
“Pasti ada yang terlibat, baik itu pejabat, penegak hukum, atau siapapun yang punya kekuasaan untuk membiarkan atau bahkan membekingi pelaku illegal mining atau illegal logging itu,” pungkasnya.***