INSIBERNEWS - Penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh kembali menjadi sorotan publik, terutama setelah Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem meluapkan kekecewaannya secara terbuka.
Musibah yang menerjang 18 kabupaten sejak akhir November 2025 itu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tapi juga luka batin bagi warga yang merasa tak segera tertolong di saat paling genting.
Sorotan paling tajam diarahkan Mualem kepada kinerja BNPB, khususnya pada hari pertama banjir besar yang melumpuhkan Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia menilai kehadiran tim darurat yang seharusnya menjadi garda terdepan justru tidak bekerja optimal ketika warga membutuhkan evakuasi cepat untuk menyelamatkan nyawa.
“Saya kecewa dengan BNPB di hari pertama banjir di Aceh Tamiang,” ujar Mualem dalam sebuah video yang diunggah melalui akun pribadinya pada 7 Desember 2025.
Menurut Mualem, persoalan utama terletak pada peralatan evakuasi yang tidak bisa digunakan. Perahu karet yang semestinya dipakai untuk menyelamatkan warga dilaporkan tidak berfungsi karena alasan kebocoran. Kondisi ini membuat proses penyelamatan terhambat dan memperburuk situasi di sejumlah titik rawan.
Gubernur Aceh itu juga menyebut situasi memilukan yang ia lihat langsung di lapangan. Warga yang terjebak banjir meminta bantuan, namun respons tim yang ada dinilainya jauh dari yang diharapkan.
“Korban minta tolong dibantu, tapi malah ditinggal. Itu yang menyakitkan,” tegas Mualem.
Baca Juga: Momen Presiden Prabowo Melepas Atlet Indonesia ke SEA Games
Jalur nasional Langsa–Aceh Tamiang disebut menjadi salah satu lokasi dengan dampak korban yang besar. Selain keterlambatan evakuasi, pembersihan material banjir dan longsor yang lambat dinilai ikut memperparah situasi, membuat ambulans dan bantuan sulit menembus lokasi tepat waktu.
Di sisi lain, BNPB menyampaikan versi berbeda. Melalui Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari, BNPB menyatakan bahwa akses darat menuju Aceh Tamiang sudah mulai terbuka dan bantuan sudah bisa masuk.
“Aceh Tamiang sekarang sudah bisa ditembus dari arah Langkat dan Sumatera Utara,” kata Muhari dalam keterangannya.
Baca Juga: Keruk Habis Kekayaan Alam, WALHI Ungkap Banyak Bekas Tambang Ditinggal Tanpa Reboisasi