news

Likuiditas Melambat, Uang Beredar Mencapai Rp9.783 Triliun pada Oktober 2025

Jumat, 21 November 2025 | 15:05 WIB
Ilustrasi Uang Rupiah Indonesia (Photo : Shutterstock.com/Maciej Matlak)

INSIBERNEWS - Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) terus bertambah dan mencapai Rp9.783,1 triliun pada Oktober 2025. Meski tetap tumbuh, laju peningkatannya sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Pertumbuhan tahunan (year on year/yoy) M2 berada di level 7,7 persen, lebih rendah dari pertumbuhan September 2025 yang mencapai 8,0 persen yoy. BI menjelaskan perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh pergerakan komponen utama penyusun M2 yang turut melemah.

Baca Juga: Bahlil Sebut Polisi dan Jaksa Aktif Bantu Kementerian ESDM, Hormati Putusan MK Soal Penugasan di Jabatan Sipil

“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 11 persen yoy dan uang kuasi sebesar 5,5 persen yoy,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso di Jakarta, Jumat (21/11/2025). 

M1, yang mencakup uang kartal dan giro rupiah, tumbuh cukup kuat dan menjadi pendorong utama M2.

Kenaikan ini menunjukkan aktivitas transaksi masyarakat masih terjaga, terutama pada sektor-sektor yang membutuhkan perputaran uang cepat. Sementara itu, pertumbuhan uang kuasi—yang terdiri dari tabungan, simpanan berjangka, dan valuta asing—terpantau lebih moderat.

Baca Juga: Pedagang Thrifting Kecewa Berat, Menkeu Tegaskan Impor Barang Ilegal Tak Akan Pernah Dilegalkan

BI menilai perkembangan M2 sejalan dengan kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi tekanan global dan penyesuaian suku bunga di beberapa negara. Pergerakan likuiditas ini juga tercermin dari stabilnya permintaan uang dan aktivitas perbankan dalam menyalurkan kredit.

Ke depan, BI memastikan tetap memantau perkembangan likuiditas secara keseluruhan untuk memastikan ketersediaan uang di masyarakat berada pada tingkat yang mendukung stabilitas ekonomi, sekaligus menjaga momentum pemulihan di berbagai sektor.***

Tags

Terkini