INSIBERNEWS - Sebagian publik menyoroti terkait Presiden Prabowo yang tiba-tiba memanggil mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan.
Di tengah polemik Whoosh yang sedang memanas beberapa waktu terakhir ini, Presiden Prabowo tiba-tiba memanggil mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan.
Pertemuannya dengan Presiden Prabowo berlangsung selama kurang lebih 2 jam dan menurut pengakuannya, tak ada pembahasan khusus mengenai Whoosh.
Baca Juga: Britney Spears Hapus Akun Instagram di Tengah Kekhawatiran Publik dan Drama Keluarga yang Memanas
“Saya terima kasih sekali, jadi kami juga minta waktu untuk sharing sebagai rakyat, sebagai warga negara untuk berdiskusi tentang program-program yang dijalankan oleh beliau,” kata Jonan kepada awak media di Istana Kepresidenan pada Senin malam, 3 November 2025.
Terkait polemik Whoosh yang kini tengah menjadi isu besar, Jonan mengaku pertemuannya dengan Presiden tidak ada membahas itu.
“Enggak, saya nggak diminta masukan soal itu (Whoosh). Enggak ada, saya udah pensiun, saya nggak menyampaikan pendapat,” imbuhnya.
Baca Juga: Tragis! Ledakan Gas Elpiji di Pekalongan Tewaskan Ibu dan Dua Anak, Satu Korban Masih Kritis
Jonan meyakini bahwa Prabowo pasti memiliki kebijakan tersendiri untuk mengatasi persoalan Whoosh di mana saat ini, menurutnya secara operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) itu berjalan dengan baik.
Ignasius Jonan Disebut Telah Menolak Proyek Whoosh Sejak Awal
Saat Whoosh ramai jadi pembicaraan, pengamat kebijakan publik dan pakar transportasi, Agus Pambagio mengungkapkan bahwa Ignasius Jonan merupakan salah satu yang menolak proyek tersebut.
“Saat itu, dua orang yang menolak (Whoosh). Satu Ignasius Jonan, dua saya. Kebetulan kami berdua membereskan kereta api,” ucap Agus Pambagio dalam podcast yang diunggah di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up pada 26 Oktober 2025 lalu.
Baca Juga: Pesawat A400 Disiapkan Prabowo untuk Misi Kemanusiaan dan Evakuasi Medis di Gaza
“Dia bilang nggak setuju, saya tanya kenapa dia bilang terlalu mahal konsesinya kenapa langsung 50 tahun dan sebagainya,” imbuhnya.***