INSIBERNEWS — Badan Gizi Nasional (BGN) mendadak menjadi pusat perbincangan panas setelah beredar kabar tentang janji insentif fantastis senilai Rp5 juta bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berhasil menciptakan konten positif dan viral mengenai program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, BGN bergerak cepat.
Insentif yang disebut-sebut oleh Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, tersebut ternyata hanyalah "candaan" di sela rapat.
Klarifikasi cepat ini menjadi kunci untuk meredam spekulasi dan kembali menegaskan komitmen BGN pada transparansi anggaran.
Baca Juga: NIKITA MIRZANI BEBAS DARI TPPU! Divonis 4 Tahun Penjara, Ini Alasan Hakim Meringankan Hukuman.
Bukan Keputusan Resmi, Hanya Pelecut Kreativitas
Janji insentif Rp5 juta itu disampaikan Nanik S. Deyang dalam suasana santai di sela Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Teknis Pelaksanaan Program MBG di Jakarta pada Senin (27/10). Tujuannya?
Membakar semangat pelaksana daerah agar lebih agresif dan kreatif dalam memerangi hoaks.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, segera angkat bicara.
"Pernyataan soal insentif Rp5 juta itu bukan keputusan resmi, melainkan hanya candaan yang disampaikan untuk memotivasi para peserta agar lebih kreatif dalam menyebarkan informasi positif tentang program MBG," tegas Khairul Hidayati dalam keterangan resminya hari ini (28/10).
Hida, sapaan akrabnya, menekankan bahwa BGN sama sekali tidak memiliki kebijakan atau program yang memberikan imbalan berupa insentif pribadi.
Candaan tersebut murni sebagai dorongan agar Koordinator Regional (Kareg) dan Koordinator Wilayah (Korwil) aktif membangun komunikasi publik yang sehat dan bertindak cepat sebagai garda terdepan dalam menangkal narasi keliru seputar program MBG.
Poin Penting Klarifikasi BGN:
- Insentif Rp5 Juta bukan keputusan resmi BGN.
- Itu murni candaan untuk memotivasi peserta.
- BGN tidak memiliki kebijakan pemberian insentif pribadi.
- Anggaran program tetap sesuai ketentuan dan mekanisme negara.
Perang Konten Melawan Hoaks: BGN Tuntut Kecepatan dan Edukasi
Kontroversi insentif ini sejatinya lahir dari kegelisahan BGN terhadap lambatnya respons di lapangan.