INSIBERNEWS - Menjelang pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, Washington secara mengejutkan memutuskan untuk mencabut ancaman tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap produk impor dari China. Langkah ini dianggap sebagai sinyal positif di tengah tensi perdagangan yang sempat kembali memanas beberapa bulan terakhir.
Keputusan itu diumumkan hanya beberapa hari sebelum keduanya dijadwalkan bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) yang akan digelar di Korea Selatan pada akhir pekan ini.
Pertemuan itu diyakini menjadi momen krusial untuk menata ulang hubungan ekonomi dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Menurut laporan Business Insider pada Senin (27/10/2025), pertemuan ini akan menjadi kesempatan bagi kedua pemimpin untuk memperkuat kembali kepercayaan dan membahas arah kebijakan dagang setelah ketegangan panjang akibat tarif saling balas yang merugikan banyak sektor industri.
Sumber dari Gedung Putih menyebutkan, pencabutan ancaman tarif dilakukan sebagai bentuk “itikad baik” dari pihak AS untuk menciptakan suasana negosiasi yang lebih konstruktif.
Keputusan ini juga dikaitkan dengan hasil perundingan antara menteri keuangan dan perdagangan dari kedua negara yang berlangsung di Malaysia akhir pekan lalu.
Baca Juga: TKA di Sulteng Tewas usai Dikeroyok, Jeratan Pidana Berat Siap Bayangi Pelaku
Dari hasil pembicaraan tersebut, kedua pihak disebut telah mencapai kesepakatan awal yang akan menjadi dasar bagi diskusi lebih lanjut antara Trump dan Xi di Korsel.
Meskipun belum ada rincian yang diungkapkan ke publik, sejumlah analis memperkirakan kesepakatan itu bisa membuka jalan bagi penurunan tarif yang lebih luas dan pemulihan arus perdagangan yang sempat terganggu.
“Saya tidak akan mendahului kedua pemimpin yang akan bertemu di Korea pada Kamis,” ujar juru bicara perdagangan AS, Katherine Bessent, dalam wawancara televisi.
“Tapi yang bisa saya sampaikan, kami menjalani negosiasi yang sangat baik dan penuh semangat. Kedua pihak menunjukkan niat kuat untuk memperbaiki hubungan ekonomi,” lanjutnya.
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai langkah AS ini bukan hanya strategi diplomatik, tetapi juga bagian dari perhitungan politik menjelang pemilihan umum di Amerika Serikat tahun depan.