news

Inflasi Oktober Diprediksi Naik, Cuaca Buruk dan Biaya Logistik Jadi Biang Kerok

Senin, 20 Oktober 2025 | 15:38 WIB
Ilustrasi Inflasi (Foto : istimewa)

INSIBERNEWS - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan inflasi pada Oktober 2025 bakal mengalami sedikit kenaikan dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini diperkirakan berada di rentang 0,12 hingga 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Sementara untuk skala tahunan (year-on-year/YoY), inflasi diprediksi akan menyentuh kisaran 2,70 sampai 2,87 persen.

Menurut tim riset LPEM, tren kenaikan tersebut wajar terjadi mengingat adanya tekanan dari faktor musiman, biaya distribusi yang meningkat, serta dampak cuaca ekstrem yang mulai melanda beberapa wilayah.

Baca Juga: Wahana Perosotan Ambruk di Ketapang, Cermin Buram Keselamatan Permainan Rakyat di Indonesia

“Inflasi Oktober kemungkinan naik karena harga sejumlah komoditas sensitif terhadap perubahan cuaca dan terganggunya pasokan barang,” tulis LPEM FEB UI dalam laporan resminya, Senin (20/10/2025).

Kondisi cuaca yang tidak menentu, terutama curah hujan tinggi di berbagai daerah, menjadi faktor utama yang menekan pasokan pangan.

Beberapa komoditas seperti beras, cabai, dan bawang disebut berisiko mengalami kenaikan harga akibat terganggunya hasil panen dan proses pengiriman dari sentra produksi ke pasar.

Baca Juga: Kucurkan Dana Rp16 Triliun, Danantara Siap Dorong Pasar Modal Jelang Akhir Tahun

Fenomena cuaca ekstrem ini memang sudah mulai terasa sejak awal Oktober. Di sejumlah daerah, jalur distribusi pertanian sempat terhambat karena akses jalan tergenang banjir, terutama di wilayah pantai utara Jawa dan sebagian Kalimantan.

Hal ini otomatis menambah beban biaya transportasi yang pada akhirnya ikut menekan harga jual di pasar tradisional maupun modern.

Selain faktor cuaca, persoalan logistik juga menjadi tantangan besar yang memengaruhi laju inflasi. Walau pemerintah belum menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), biaya pengiriman barang terus meningkat akibat tarif angkutan yang belum turun sejak pertengahan tahun.

Beberapa pengusaha transportasi mengaku sulit menekan ongkos operasional karena harga suku cadang dan biaya perawatan kendaraan ikut naik.

Baca Juga: Acara IFG Bike for Charity 2025 di Tasikmalaya Dimeriahkan oleh 1000 Pesepeda!

“Meski BBM stabil, biaya logistik di lapangan tetap tinggi. Ini yang bikin harga barang di pasar sulit turun,” kata salah satu analis LPEM FEB UI yang tak disebutkan namanya.

Halaman:

Tags

Terkini