news

AS Siapkan Sanksi Lebih Ketat, Rusia Terancam Tekanan Ekonomi Total

Rabu, 10 September 2025 | 15:25 WIB
Ilustrasi Bendera Amerika Serikat (AS) (FOTO : Deposiphotos)

INSIBERNEWS - Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, kembali mengingatkan dunia bahwa Washington tidak akan tinggal diam terhadap agresi militer Rusia di Ukraina.

Dalam pernyataannya pada Senin (8/9/2025), Bessent menegaskan bahwa AS siap mengetatkan sanksi ekonomi dan bahkan mendorong sekutu Eropa agar bersatu menekan negara-negara yang masih menjadi pembeli utama minyak Rusia.

Menurutnya, konflik di Ukraina kini berubah menjadi ajang adu ketahanan. Di satu sisi, militer Ukraina terus berjuang mempertahankan diri, sementara di sisi lain, ekonomi Rusia tengah diuji seberapa lama bisa bertahan di bawah gempuran sanksi internasional.

Baca Juga: Usai Dilantik, Prabowo Amanahkan Gus Irfan Yusuf Perbaiki Layanan Haji dan Umrah Indonesia

“Ini adalah perlombaan waktu. Kita harus memastikan bahwa kekuatan ekonomi Rusia runtuh lebih cepat daripada kemampuan mereka membiayai perang,” kata Bessent dalam wawancara yang dikutip Al Jazeera.

Bessent menilai langkah strategis berikutnya adalah penerapan tarif sekunder, yakni menargetkan negara-negara yang masih membeli minyak mentah Rusia.

Kebijakan ini diharapkan dapat mempersempit ruang gerak Moskow, sekaligus menekan pemasukan utama dari sektor energi yang selama ini menopang anggaran perang Kremlin.

Baca Juga: Vespa LX 150 Hadir dengan Wajah Baru, Lebih Segar dan Stylish

Sejak invasi dimulai pada Februari 2022, Rusia masih mampu menjaga stabilitas ekonomi berkat pasar alternatif di Asia, termasuk Tiongkok dan India.

Namun, Bessent menekankan bahwa tanpa tekanan bersama dari Eropa dan sekutu global, upaya memutus aliran dana ke Moskow akan berjalan lambat.

“Jika kita bisa menutup celah pembeli minyak itu, Rusia tidak akan punya banyak pilihan selain duduk di meja perundingan,” tambahnya.

Ia menegaskan, AS berkomitmen menggunakan instrumen ekonomi sebagai senjata utama untuk memaksa perubahan.

Baca Juga: BYD Gugat CEO Great Wall Motor, Drama Persaingan Otomotif China Memanas

Di Eropa sendiri, respons terhadap seruan AS masih beragam. Beberapa negara mendukung langkah tegas terhadap Rusia, namun ada pula yang khawatir terhadap dampak kenaikan harga energi di dalam negeri.

Halaman:

Tags

Terkini