INSIBERNEWS – Sebuah kabar duka datang dari perairan Korea Selatan. Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai nelayan dilaporkan tewas setelah lima hari pencarian intensif oleh otoritas setempat.
Korban, pria berinisial A, kelahiran tahun 1996, sebelumnya dinyatakan hilang saat bekerja di atas kapal penangkap ikan di perairan dekat Pelabuhan Bieung, Kota Gunsan, Provinsi Jeolla Utara.
Insiden tragis ini terjadi pada 1 Juli 2025, ketika korban dikabarkan terjatuh ke laut saat sedang melakukan aktivitas rutin di atas kapal.
Baca Juga: Lee Siyoung Hamil Anak Kedua dari Mantan Suami: Embrio Terakhir, Kesempatan Terakhir
Rekan-rekannya di kapal segera melaporkan kejadian tersebut, yang kemudian direspons oleh Gunsan Coast Guard (Kepolisian Laut Gunsan) dengan mengerahkan operasi pencarian besar-besaran.
Setelah upaya pencarian yang berlangsung selama lima hari penuh, jasad korban akhirnya ditemukan pada 6 Juli pukul 14.28 waktu setempat.
Tim penyelamat segera mengevakuasi jasad tersebut dan melakukan proses identifikasi.
Baca Juga: Marion Jola Siap Rilis Album Baru, Ada Lagu Bernuansa Timur dan Tentang Pelakor
Berdasarkan hasil pemeriksaan, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa jasad tersebut adalah A, nelayan WNI yang sebelumnya dilaporkan hilang.
Dalam keterangannya, pihak Gunsan Coast Guard menyatakan bahwa penyelidikan lebih lanjut masih akan dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti jatuhnya korban ke laut.
Meski indikasi awal menunjukkan kecelakaan kerja, otoritas setempat tetap akan mengusut kemungkinan lain yang berkaitan dengan kelalaian keselamatan kerja di kapal tersebut.
Baca Juga: PSIM Tambah Amunisi Asing, Franco Ramos Siap Perkuat Tembok Pertahanan Laskar Mataram
Pencarian Besar-besaran dengan Dukungan Armada Laut dan Udara
Operasi pencarian terhadap korban tergolong sangat serius. Otoritas Korea Selatan mengerahkan 29 unit kapal, yang terdiri dari kapal penjaga pantai, kapal militer, serta unit kapal lainnya yang relevan.
Ditambah dengan 12 unit pesawat udara, termasuk helikopter dan drone pencari, untuk menyisir area laut yang luas dan kompleks di sekitar pelabuhan Bieung.
Operasi pencarian yang dilakukan secara intensif ini menjadi cerminan komitmen Korea Selatan dalam penanganan kasus hilangnya pekerja migran di wilayah perairan mereka, serta pentingnya prosedur darurat yang diterapkan secara cepat.
Baca Juga: Ari Lasso Sindir Musisi Baru yang Ribet soal Riders, Jangan Manja di Dunia Profesional!
Pekerja Migran Indonesia di Sektor Perikanan Korea Selatan
Korea Selatan merupakan salah satu negara tujuan utama bagi pekerja migran Indonesia di sektor perikanan, khususnya di industri penangkapan ikan jarak jauh.
Menurut data dari Kementerian Ketenagakerjaan RI dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), terdapat ribuan WNI yang bekerja di atas kapal penangkap ikan berbendera Korea Selatan, baik di wilayah perairan lokal maupun internasional.
Namun, sektor ini seringkali diwarnai dengan tantangan serius, termasuk jam kerja yang panjang, paparan cuaca ekstrem, dan standar keselamatan kerja yang tidak selalu ditegakkan secara konsisten.
Baca Juga: Presiden Trump Resmikan Tarif 32 Persen untuk Indonesia, Berlaku Mulai 1 Agustus 2025
Laporan dari berbagai lembaga HAM internasional juga mencatat bahwa pekerja migran di sektor perikanan kerap menghadapi risiko tinggi terhadap kecelakaan laut, eksploitasi, bahkan pelecehan.
Tragedi yang menimpa A menjadi pengingat penting bagi semua pihak, baik pemerintah Indonesia maupun otoritas Korea Selatan untuk meningkatkan perlindungan terhadap para pekerja migran, khususnya mereka yang bekerja di sektor berisiko tinggi seperti perikanan.
Tindak Lanjut dan Perlindungan
Pemerintah Indonesia melalui KBRI Seoul dan KJRI Busan dilaporkan telah berkoordinasi dengan otoritas Korea Selatan dalam menangani kasus ini, termasuk memastikan proses pemulangan jenazah kepada keluarga korban di tanah air.
Baca Juga: Heboh Grup 'Gay Lampung': Tiga Orang Diciduk Polisi karena Sebar Konten Tak Senonoh di Facebook
Selain itu, BP2MI menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem rekrutmen dan penempatan pekerja migran sektor laut, agar kejadian serupa tidak terulang.
Kejadian ini turut menyentuh publik Indonesia, terutama di kalangan keluarga pekerja migran.
Banyak pihak menyerukan agar standar keselamatan kerja di kapal perikanan diperketat, termasuk pelatihan darurat, pemakaian alat pelindung diri, serta pengawasan ketat terhadap jam kerja dan prosedur kerja malam hari.