INSIBERNEWS - Cadangan beras pemerintah (CBP) resmi mencetak rekor baru dengan angka menembus 4 juta ton. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak Perum Bulog berdiri pada 1969.
Angka ini bukan hanya mencerminkan ketahanan pangan nasional, tapi juga membuka peluang baru bagi Indonesia di kancah global sebagai negara produsen beras yang tangguh.
Baca Juga: Mobil Bekas Rasa Baru Bikin Geger, Industri Otomotif China Diterpa Skandal Penjualan
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa keberhasilan ini menandai babak baru dalam strategi pangan nasional. Menurutnya, Indonesia kini tidak hanya berbicara soal swasembada beras, tapi sudah mulai menyentuh level kedaulatan pangan.
Artinya, produksi dalam negeri sudah sangat mencukupi dan bahkan berpotensi untuk dibagi ke negara lain yang membutuhkan.
Baca Juga: Varian Baru Covid-19 Muncul Lagi, Kemenkes Pastikan Tak Sebabkan Kematian Tinggi
“Kita tidak lagi hanya bicara swasembada, tapi sudah bicara kedaulatan. Dengan angka serapan seperti ini, Indonesia secara tidak langsung siap mengambil peran lebih besar dalam sistem pangan dunia,” ujar Amran dalam pernyataannya, yang dikutip pada, Senin (2/6/2025).
Lonjakan cadangan beras ini disebut terjadi berkat peningkatan serapan hasil panen petani yang dilakukan Bulog, ditambah langkah cepat pemerintah dalam memastikan distribusi berjalan lancar. Di sisi lain, iklim yang relatif stabil dan dukungan teknologi pertanian juga ikut mendorong hasil panen melimpah pada awal tahun ini.
Baca Juga: Heboh! Polres Lamongan Usut Grup Facebook Tertutup Soal Hubungan Sesama Jenis
Dengan ketersediaan beras yang melimpah, pintu ekspor pun mulai terbuka lebar. Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia menjadi tujuan kunjungan sejumlah pejabat tinggi bidang pertanian dari berbagai negara, seperti Malaysia, Jepang, dan Chile. Hal ini menandakan bahwa pasar internasional mulai melirik potensi Indonesia sebagai mitra dagang pangan yang strategis.
Pemerintah pun tengah menyusun skema ekspor yang hati-hati, agar tidak mengganggu kebutuhan domestik sambil tetap mengambil peluang di pasar global.
Jika langkah ini berhasil dieksekusi dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia akan benar-benar menjadi lumbung pangan dunia, bukan hanya dalam wacana, tapi dalam praktik nyata.