INSIBERNEWS – Ketika alam marah, yang jadi korban seringkali bukan pelaku utamanya. Begitu juga yang terjadi di Gunung Kuda, Cirebon.
Tanah longsor hebat akibat aktivitas tambang galian C yang tak terkendali menelan setidaknya 14 nyawa dan meninggalkan luka mendalam bagi banyak keluarga.
Di balik reruntuhan tanah dan batu itu, ada cerita kehilangan, trauma, dan juga bentuk tanggung jawab yang tak biasa dari seorang pemimpin.
Baca Juga: Ngaku Wartawan, Sebar Berita Bohong, Lalu Minta Uang: Ini Kronologi Lengkap Pemerasan LSN
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengambil sikap tegas: mencabut izin tambang yang dikelola oleh Koperasi Pondok Pesantren Al-Azhariyah.
Langkah ini bukan hanya soal administrasi, tapi bentuk peringatan bahwa bisnis, sebesar apapun, tak bisa berjalan dengan menafikan keselamatan masyarakat dan kelestarian alam.
Ketika kelalaian merenggut nyawa, sudah saatnya rem darurat ditarik.
Baca Juga: Tambang Longsor Telan Alat Berat dan Pekerja, Dedi Mulyadi Bakal Resmi Tutup Gunung Kuda Selamanya
Namun, tindakan Dedi tak berhenti di situ. Dalam unggahan video di TikTok, ia terlihat mengunjungi korban yang ditinggal suami karena tragedi ini.
Sang ibu, seorang pedagang minuman, kini harus membesarkan empat anak sendiri. Dedi pun menyatakan kesediaannya untuk menjadi ayah asuh bagi anak-anak korban.
Di tengah berita duka, ada sedikit cahaya dari komitmen seorang pemimpin yang ingin lebih dari sekadar hadir di lokasi bencana.
Longsor Gunung Kuda seakan jadi tamparan keras bagi semua pihak: dari pengelola tambang yang abai, sampai pada pemerintah daerah yang semestinya mengawasi lebih ketat.
Tambang galian C bukan isu baru, tapi ketika nyawa yang jadi taruhan, diskusi soal regulasi harus berubah jadi tindakan nyata.