INSIBERNEWS - Kasus kekerasan yang menimpa seorang santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Islam Meeto, Desa Mattirobulu, Kecamatan Tiwu, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara, akhirnya mulai menemui titik terang.
AMRM (13), korban bullying berat ini, akhirnya angkat bicara. Ia membantah keras pernyataan bahwa insiden yang membuat tubuhnya terbakar itu terjadi secara tidak sengaja.
Dalam kesaksiannya, AMRM mengaku bahwa dirinya benar-benar disiram pertalite dan sengaja dibakar oleh dua seniornya.
Baca Juga: Miris! Penjual Gorengan di Jombang Dihantam Tagihan Listrik Rp12,7 Juta
Menurut penuturan AMRM pada Sabtu (12/4/2025), peristiwa mengenaskan itu bermula saat ia sedang berada di asrama. Tanpa curiga, ia dipanggil ke belakang pondok oleh teman sesama santri.
Saat itu, ia hanya mengenakan sarung karena bersiap untuk mandi di sungai. Di lokasi, dua pelaku sudah menunggu bersama dua orang lainnya.
"Saya disuruh cium pertalite supaya rambut saya dirapikan. Karena saya menolak, langsung disiram bensin dan dilempar ranting yang sudah dibakar," ujarnya lirih.
Api pun langsung menyambar tubuhnya, membuat AMRM panik bergulingan di tanah sebelum akhirnya berlari tercebur ke sungai untuk memadamkan api.
Baca Juga: Dikebumikan dengan Sederhana, Paus Fransiskus Dimakamkan Hari ini
Bukan hanya sekali, AMRM mengaku telah berulang kali menjadi korban kekerasan selama mondok di Ponpes tersebut.
Ia sering dipukul, ditempeleng, bahkan diinjak-injak oleh pelaku.
"Saya sudah sering dihajar sejak awal semester. Bahkan sebelum kejadian bakar itu, saya sempat ditendang karena menolak menghirup bensin," jelasnya.
Kesaksian ini membantah keras klaim pihak pondok pesantren yang sempat menyebut kejadian tersebut hanyalah "kecelakaan" dan "main-main semata."