INSIBERNEWS - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah kontroversial dengan membekukan anggaran lembaga penyiaran dan media pemerintah pada Sabtu (15/3/2025).
Lembaga penyiaran yang dibekukan Donald Trump tersebut termasuk Voice of America (VOA).
Keputusan ini berimbas pada hampir seluruh staf VOA, yang terdiri dari 1.300 jurnalis, produser, dan asisten, yang kemudian diberi cuti administratif.
Baca Juga: Jelang Lawan Australia, PSSI Tambah Pelatih Lokal dan Fokus Recovery Pemain
Michael Abramowitz, direktur Voice of America, menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah 83 tahun lembaga tersebut, VOA tidak dapat beroperasi.
Dilansir INsibernews dari laman Reuters (18/3/2025), menurut Abramowitz, VOA memiliki peran penting dalam menyebarkan kebebasan dan demokrasi di seluruh dunia.
Terutama bagi masyarakat yang hidup di bawah rezim otoriter, dengan memberikan berita yang objektif dan berimbang.
Baca Juga: Buntut Penerobosan Rapat RUU TNI, Sekuriti Hotel Fairmont Buat Laporan ke Polisi
Pada Jumat (14/3/2025), Presiden Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang mencantumkan US Agency for Global Media, yang menaungi VOA dan beberapa lembaga media lainnya.
Sebagai bagian dari birokrasi federal yang dianggap tidak lagi diperlukan.
Langkah ini memicu ketegangan di kalangan staf media tersebut.
Baca Juga: Atasi Potensi Hujan Lebat, BPBD DKI Jakarta Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca
Di akhir pekan, para pekerja di VOA, Radio Free Asia, Radio Free Europe, serta media terkait lainnya menerima pemberitahuan melalui email yang menginstruksikan mereka untuk tidak masuk kerja.
Mereka juga diminta untuk mengembalikan kartu pers dan peralatan kerja yang diberikan oleh kantor.