INSIBERNEWS – Pemerintah Israel dikabarkan akan melarang warga Palestina yang baru saja dibebaskan dari penjara dalam kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan di Gaza untuk memasuki Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan.
Kebijakan ini diperkirakan akan semakin memperkeruh situasi di Yerusalem Timur, yang kerap menjadi pusat ketegangan antara Palestina dan Israel.
Baca Juga: Erick Thohir Tegaskan Indra Sjafri Tak Akan Tangani Tim di SEA Games 2025
Menurut laporan dari lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada Minggu (23/2/2025), kepolisian Israel telah menetapkan aturan bahwa para mantan tahanan Palestina yang dibebaskan dalam beberapa minggu terakhir tidak akan diizinkan mengakses kawasan Masjid Al-Aqsa.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya pengamanan selama bulan Ramadan, periode yang sering kali memicu ketegangan antara warga Palestina dan otoritas Israel.
Baca Juga: Sah! Presiden Prabowo Resmikan Bank Emas Pertama di Indonesia
Untuk mengontrol pergerakan warga Palestina, Israel juga akan menerjunkan sekitar 3.000 personel keamanan setiap hari di pos pemeriksaan menuju Yerusalem Timur dan kompleks Masjid Al-Aqsa.
Selain itu, kepolisian Israel merekomendasikan agar izin masuk ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadan dibatasi hanya untuk 10.000 warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki. Izin tersebut pun hanya diberikan kepada pria di atas 55 tahun dan wanita di atas 50 tahun.
Baca Juga: Pertamina Tolak Sejumlah Kontraktor dengan Alasan Kualitas Tidak Standar, Tapi Justru Oplos Pertamax
Pembatasan akses ke Al-Aqsa bagi warga Palestina bukanlah hal baru. Setiap tahunnya, Israel selalu menerapkan kebijakan ketat selama Ramadan, dengan alasan keamanan.
Namun, kali ini kebijakan tersebut datang di tengah meningkatnya eskalasi militer di Tepi Barat serta ketegangan yang masih membara akibat konflik di Gaza.
Baca Juga: Kabupaten Klaten Dilanda Cuaca Ekstrem, 60 Rumah Dilaporkan Alami Kerusakan
Langkah ini diprediksi akan memicu reaksi keras dari masyarakat Palestina serta komunitas internasional.
Masjid Al-Aqsa sendiri merupakan salah satu situs paling suci bagi umat Islam, dan setiap kebijakan yang membatasi akses ke tempat ibadah ini sering kali berujung pada gelombang protes serta bentrokan di lapangan.