news

Polri Tanggapi dan Dukung Kritik Konstruktif, Band Punk Sukatani Diperbolehkan Rilis Lagi Lagu ‘Bayar Bayar Bayar’

Senin, 24 Februari 2025 | 13:24 WIB
Polri Tanggapi Lagu Sukatani ‘Bayar Bayar Bayar’, Akui Kritikan Itu Membangun (IG Band Sukatani)

INSIBERNEWS - Band punk asal Purbalingga, Sukatani, yang sempat menarik lagu mereka “Bayar Bayar Bayar” yang berisi kritikan terhadap polisi, kini kembali diizinkan untuk merilisnya. Hal ini mencuat setelah pihak kepolisian melalui Polda Jawa Tengah memberikan pernyataan resmi yang menghargai ekspresi seni sebagai bentuk kritik yang membangun.

Keputusan Polri: Menghargai Kritik yang Konstruktif

Polri tampaknya benar-benar menunjukkan sisi bijaknya dalam merespons kritik. Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Artanto, menyampaikan bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit mempersilakan band Sukatani untuk kembali mengedarkan lagu tersebut. Artanto menjelaskan, bahwa kritik yang membangun adalah hal yang diterima dengan baik, karena hal tersebut menjadi bagian dari komunikasi antara masyarakat dan institusi.

“Polri sangat menghargai ekspresi yang diberikan oleh siapa saja yang mengkritik dengan cara yang konstruktif. Itu akan menjadi teman bagi Kapolri," ujar Artanto dalam konferensi pers, Jumat (21/2/2025).

Tentu, pernyataan ini menjadi angin segar bagi dunia seni, khususnya musik, yang sering kali menjadi medium kritikan sosial. Sukatani, yang sebelumnya memilih menarik lagu mereka setelah mendapat perhatian negatif, kini dipersilakan untuk merilisnya lagi tanpa rasa takut.

 Baca Juga: 17 Kepala Daerah Kader PDIP Susul Rekan-rekannya di Retreat Akmil Magelang

Klarifikasi dan Penarikan Lagu: Polri Tegaskan Tidak Ada Intimidasi

Awalnya, lagu "Bayar Bayar Bayar" yang diciptakan oleh Sukatani sempat memicu kontroversi karena dinilai mengkritik kebijakan polisi. Banyak yang menduga ada tekanan atau intimidasi dari pihak kepolisian yang membuat band punk ini akhirnya merilis video permintaan maaf.

Namun, Artanto menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah bentuk intimidasi. Pihak kepolisian hanya melakukan klarifikasi yang sifatnya santai, antara penyidik Siber Polda Jateng dengan Sukatani. Artanto menambahkan bahwa Polri justru menghargai setiap kegiatan berekspresi dan berpendapat, termasuk melalui seni seperti musik.

“Kami tidak mengintimidasi. Klarifikasi yang dilakukan lebih kepada bincang-bincang yang sifatnya informatif,” terang Artanto. “Kritik yang membangun justru kami apresiasi, karena itu bagian dari perbaikan,” lanjutnya.

Sukatani, Musisi yang Cinta Negeri

Pada akhirnya, cerita ini menggarisbawahi bagaimana dunia musik, khususnya genre punk, seringkali menjadi saluran ekspresi kritik yang tajam namun penuh makna. Dalam konteks ini, kritik terhadap Polri dalam lagu Sukatani yang sempat ditarik kembali, tidak harus selalu diartikan sebagai bentuk permusuhan, melainkan sebagai upaya untuk memperbaiki dan membangun.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kritik yang membangun, Artanto menambahkan bahwa mereka yang memberikan kritik kepada Polri dalam bentuk yang positif dan bertujuan untuk perbaikan, akan tetap dihargai dan diterima sebagai teman.

Sukatani pun bisa bernafas lega. Lagu mereka yang sempat dilarang kini bisa kembali dimainkan, memberikan gambaran jelas bahwa Polri tidak anti-kritik, dan lebih menghargai dialog yang konstruktif.

 Baca Juga: Libur Sekolah Awal Ramadan 2025 Ditetapkan 7 Hari, Siswa Diharapkan Tetap Belajar Mandiri

Refleksi Dunia Musik dan Kebebasan Berekspresi

Kisah ini juga menyentil pentingnya kebebasan berekspresi dalam seni, terutama dalam musik, yang selalu menjadi refleksi suara masyarakat. Kritik yang disampaikan oleh band punk ini, meskipun keras, justru bisa dijadikan pijakan untuk introspeksi dan perubahan yang lebih baik dalam institusi pemerintahan atau kepolisian.

Dengan dukungan Polri terhadap kritik yang membangun, kita bisa berharap agar ada lebih banyak ruang bagi musisi untuk menyuarakan pendapat mereka tanpa rasa takut akan represi. Seperti halnya Sukatani, yang kini bisa dengan tenang mengedarkan kembali lagu mereka, semoga ini menjadi contoh bagi para seniman dan musisi lain untuk terus berkarya dan berpendapat.

Tags

Terkini