Impor Susu Indonesia Naik 7 Persen, Selandia Baru Jadi Pemasok Utama

Photo Author
- Minggu, 17 November 2024 | 09:54 WIB
Ilustrasi susu (Photo : istimewa)
Ilustrasi susu (Photo : istimewa)

INSIBERNEWS - Impor susu sapi Indonesia terus menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari Januari hingga Oktober 2024, volume impor susu tercatat mencapai 257.300 ton.

Angka ini meningkat 7,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang hanya mencapai 240.300 ton.

Baca Juga: BRI Peduli Berdayakan Eks Pekerja Migran Indonesia dengan Keterampilan dan Pengetahuan

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa peningkatan ini tak hanya terjadi secara tahunan, tetapi juga bulanan.

"Pada Oktober 2024, impor susu mencapai 24.862 ton, naik signifikan sebesar 23,07 persen dibandingkan September lalu yang tercatat 20.201 ton," ujarnya saat menyampaikan laporan pada Jumat (15/11/2024).

Baca Juga: Celana Kulot dan Blazer, 6 Tips Padu Padan untuk Gaya Office Chic yang Stylish dan Profesional

Dari sisi asal impor, Selandia Baru menjadi pemasok terbesar dengan kontribusi 126.840 ton atau sekitar 49,30 persen dari total impor.

Selain itu, Amerika Serikat dan Australia juga masuk dalam tiga besar, masing-masing menyuplai 45.180 ton (17,56 persen) dan 38.190 ton (14,84 persen).

Sebagian besar susu yang diimpor berbentuk bubuk atau krim, bukan susu segar, untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan dalam negeri.

Baca Juga: Tampil Chic dengan 7 Padu Padan Celana Kulot dan Kemeja untuk Gaya Modern Minimalis

Peningkatan impor ini mencerminkan tingginya kebutuhan susu di Indonesia, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun bahan baku industri makanan dan minuman.

Meski demikian, kondisi ini juga menyoroti tantangan besar dalam produksi susu lokal, yang masih belum mampu memenuhi permintaan nasional secara optimal.

Baca Juga: Terungkap Alasan Shin Tae Yong Tidak Memasukkan Eliano Reijnders Saat Lawan Jepang

Minimnya produktivitas sapi perah, keterbatasan teknologi, serta tingginya biaya produksi menjadi kendala utama yang dihadapi peternak lokal.

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X