Ribuan Titik Api Kepung Papua Tengah, Karhutla di Nabire Paling Parah dan Sulit Dijangkau

Photo Author
- Senin, 24 Agustus 2026 | 15:27 WIB
Karhutla di Papua Tengah sulit dipadamkan (Dok. Istimewa)
Karhutla di Papua Tengah sulit dipadamkan (Dok. Istimewa)
INSIBERNEWS - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, terus menunjukkan ekskalasi yang cukup mengkhawatirkan.
 
Amukan kobaran api yang menjalar cepat kini dilaporkan telah meluluhlantakkan kawasan ekosistem yang tersebar luas di tujuh distrik berbeda.

Merespons kondisi darurat tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung turun tangan melakukan pemantauan intensif.
 
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, memaparkan bahwa rentetan kebakaran di wilayah itu sejatinya telah berlangsung sejak 18 Juli lalu.
 

"Pemerintah daerah mengidentifikasi kebutuhan dukungan lebih lanjut berupa water bombing dan tambahan armada pemadam untuk menangani area yang sulit dijangkau dengan penanganan darat," terang Berton, menyoroti medan Papua yang sangat menantang dan membatasi gerak tim pemadam.

Tingkat keparahan musibah karhutla ini juga terekam jelas melalui pantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
 
Sepanjang rentang waktu 10 hingga 22 Agustus 2026, sistem pemantau mendeteksi kemunculan 1.923 titik panas (hotspot) yang tersebar di sekujur wilayah Papua Tengah.

Dari ribuan titik api yang menyala tersebut, Kabupaten Nabire teridentifikasi sebagai zona merah sekaligus penyumbang angka terbesar.
 
 
Tercatat ada 1.069 titik panas yang mengepung kabupaten ini, memicu potensi kerusakan lingkungan masif dan ancaman polusi udara bagi warga setempat.

Kepala BMKG Nabire, Husain Kamadi, membeberkan bahwa maraknya kemunculan titik panas ini sangat dipengaruhi oleh anomali cuaca. Cuaca ekstrem yang dibarengi dengan krisis ketersediaan pasokan air menjadi pemicu utama mengapa api begitu mudah menyebar luas tak terkendali.

"Curah hujan di wilayah Nabire tercatat sangat rendah dalam tiga dasarian terakhir. Penurunan drastis pasokan air ini membuat vegetasi dan lahan menjadi sangat kering sehingga sangat mudah terbakar apabila terpicu oleh percikan api," pungkas Husain menutup penjelasannya.***

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X