INSIBERNEWS - Tragedi maut kembali mewarnai aktivitas pertambangan emas tanpa izin di wilayah Gorontalo.
Sebuah tebing tanah bergeser secara tiba-tiba dan seketika mengubur puluhan pekerja tambang yang sedang berada di bawahnya, tepatnya di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, pada Rabu (12/8/2026) sore hari.
Proses evakuasi dramatis pada Rabu malam membuahkan hasil dengan ditemukannya enam korban dari balik timbunan material longsor.
Nahasnya, lima pekerja malang di antaranya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, sementara satu orang lainnya berhasil diselamatkan dari maut. Seluruh korban tewas teridentifikasi sebagai warga Kabupaten Boalemo, dan jenazahnya kini telah diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing untuk segera dimakamkan.
Baca Juga: Cicipi Ayam Basi Sampai Muntah, Kepala SPPG Karanganyar Sigap Tarik 94 Paket Makan Siang Siswa
Menanggapi insiden mematikan ini, Kepala Bidang Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Marupa Sagala, menyatakan bahwa tim gabungan dari berbagai instansi masih terus berjibaku di lokasi.
Pihaknya menduga kuat masih banyak penambang lain yang terjebak di dalam tanah dan belum sempat terselamatkan akibat tebalnya material longsor.
"Terdata sementara dari Polres, laporannya ada enam (korban), yang meninggal ada lima dan satu selamat. Sementara ya. Apa yang saya bilang tadi yang dilaporkan 6 orang ya, tetapi kita belum tahu jika ada laporan kembali dan masih ditelusuri di TKP. Petugas masih di lokasi dan telah mengamankan TKP-nya," ujar Marupa saat memberikan keterangan resmi di Gorontalo pada Kamis (13/8/2026).
Kendala utama dalam kelancaran operasi darurat ini rupanya adalah titik lokasi yang terlampau jauh dari permukiman warga serta minimnya akses kendaraan.
Kondisi alam geografis yang teramat ekstrem memaksa laju regu penyelamat berjalan lambat, sehingga pihak kepolisian belum berani memastikan total keseluruhan warga yang masih tertimbun di dalam lubang galian.
Fakta di lapangan juga menguak bahwa kawasan tambang emas gelap tersebut selalu beroperasi mengandalkan alat-alat berat yang sangat berisiko merusak kestabilan tanah.
Aparat kepolisian mengakui sejatinya sudah berkali-kali melancarkan razia dan penertiban di area tersebut, namun para penambang liar terus membandel mencari kelengahan petugas demi kembali mengeruk keuntungan secara sembunyi-sembunyi.
"Sudah beberapa kali telah dilakukan penindakan di sana dan baru diketahui aktivitas di sana," keluh Marupa sembari memastikan bahwa aparat kini telah mengepung dan menyegel kawasan itu untuk mendalami unsur kelalaian manusia di balik musibah tragis tersebut.***
Artikel Terkait
Kecam Keras Promo Miras Berdalih Ayat Suci di Ancol, MUI Jakut Imbau Warga Tak Main Hakim Sendiri
Warning Mentan Amran Soal Isu El Nino: 'Jangan Sampai Bikin Petani Takut Menanam!'
Kebakaran Hebat di Bengkulu Hanguskan 21 Rumah, Instalasi Listrik Jadi Sorotan
Gerebek Sarang Narkoba Kampung Bahari Berujung Ricuh, BNN Dihujani Petasan oleh Anak Buah Bandar
Cicipi Ayam Basi Sampai Muntah, Kepala SPPG Karanganyar Sigap Tarik 94 Paket Makan Siang Siswa