BI Beberkan Penyebab Rupiah Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Soroti Sinyal Hawkish The Fed

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Rabu, 8 Juli 2026 | 11:34 WIB
Bank Indonesia (BI)  (Dok. Bank Indonesia)
Bank Indonesia (BI) (Dok. Bank Indonesia)

INSIBERNEWS - Bank Indonesia memberikan penjelasan terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Bank sentral menilai pergerakan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah mata uang negara berkembang akibat perubahan sentimen di pasar keuangan global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.

Menurutnya, pasar merespons kuat pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu mendatang.

Baca Juga: Diskualifikasi Peserta Clash of Champions S3 Jadi Sorotan, Begini Penjelasan Resmi Ruangguru

Meski dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pertengahan Juni lalu suku bunga acuan diputuskan tetap berada di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen, sinyal kebijakan yang cenderung hawkish membuat pelaku pasar meningkatkan permintaan terhadap aset berbasis dolar AS. Kondisi tersebut mendorong penguatan mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.

Dampaknya terlihat pada lonjakan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang naik dari kisaran 95 pada awal 2026 menjadi sekitar 101 pada akhir Juni.

Penguatan indeks tersebut mencerminkan meningkatnya posisi dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, sehingga turut memberi tekanan terhadap nilai tukar berbagai negara, termasuk rupiah.

Baca Juga: Arab Saudi Diskon Harga Minyak, Persaingan Pasar Asia Makin Memanas

Bank Indonesia menilai kombinasi antara ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menguatnya indeks dolar menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan mata uang di berbagai negara.

Karena itu, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dipengaruhi kondisi eksternal dibandingkan faktor fundamental ekonomi domestik.

Meski demikian, BI memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki.

Langkah tersebut mencakup intervensi di pasar valuta asing, optimalisasi instrumen moneter, serta koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

Baca Juga: Bantah PHK Massal, TikTok-Tokopedia Ungkap Sedang Rekrut Lebih dari 100 Karyawan

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X