Data korban jiwa pun terus bertambah. Setidaknya 182 orang dilaporkan tewas dalam satu hari, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak konflik dimulai.
Sementara itu, Al Jazeera melaporkan angka yang lebih tinggi, yakni 254 korban tewas dan lebih dari 1.100 orang terluka.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa konflik di Lebanon seharusnya termasuk dalam cakupan gencatan senjata.
Namun, pandangan ini bertolak belakang dengan sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesepakatan tersebut tidak berlaku untuk wilayah Lebanon.
Di sisi lain, mediator dari Pakistan menegaskan bahwa perjanjian damai seharusnya berlaku secara menyeluruh, termasuk di Lebanon dan kawasan lain yang terdampak konflik.
Penutupan Selat Hormuz dan meningkatnya konflik bersenjata menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah masih jauh dari stabil.
Baca Juga: Pengadaan Motor Operasional MBG Jadi Sorotan, Kepala BGN Beri Keterangan
Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi global, terutama di sektor energi.
Dikhawatirkan jika tidak segera ditangani melalui diplomasi yang efektif, konflik ini bisa berkembang menjadi krisis yang lebih luas dengan dampak internasional yang signifikan. ***
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Ungkap Bea Cukai Siapkan 380 Lowongan untuk Lulusan SMA, Rekrutmen Segera Dibuka
Vape Bakal Dilarang di Indonesia? BNN Temukan Narkotika Dalam Liquid
Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim atas Tuduhan Dana Rp5 Miliar Terkait Kontroversi Ijazah Jokowi
Tragis! Pekerja Migran Indonesia Meninggal Saat Melarikan Diri di Kamboja
Hemat APBN, Menkeu Purbaya Pangkas Perjalanan Luar Negeri Pejabat Hingga 70 Persen
Pemerintah Luncurkan Buku Saku 0 Persen, Upaya Hilangkan Kemiskinan di Indonesia