INSIBERNEWS - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti besarnya biaya operasional Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang dinilai membebani keuangan daerah. Setiap tahun, anggaran yang harus dikucurkan dari APBD Jawa Barat disebut mencapai Rp100 miliar.
Menurut Dedi, besaran dana tersebut tidak sebanding dengan manfaat yang dirasakan masyarakat. Hingga kini, Bandara Kertajati dinilai belum mampu memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi pertumbuhan wilayah maupun kesejahteraan warga Jawa Barat.
Baca Juga: Muhammadiyah Resmi Tetapkan Awal Puasa 2026, Ramadhan Dimulai 18 Februari
Ia mengungkapkan, dari total anggaran operasional itu, sekitar setengahnya atau Rp50 miliar digunakan hanya untuk kebutuhan manajemen dan pengelolaan bandara. Kondisi ini membuat pemerintah provinsi harus berpikir ulang mengenai keberlanjutan pembiayaan tersebut.
“Pertanyaan saya, bisa nggak sih karena kita terus membiayai tapi tidak ada hasilnya, Kertajati ini disetop dulu?” ujar Dedi Mulyadi.
Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM itu menilai, idealnya sebuah proyek infrastruktur besar harus memberi dampak langsung bagi perekonomian daerah, baik melalui peningkatan aktivitas bisnis, pariwisata, maupun penciptaan lapangan kerja.
Baca Juga: Tiang Monorel Era Lama Akan Dibongkar, Pramono Anung Siap Percantik Rasuna Said dan Senayan
Ia menyayangkan fakta bahwa setelah beroperasi beberapa tahun, Bandara Kertajati masih minim trafik penerbangan dan belum menjadi simpul transportasi udara yang hidup seperti yang direncanakan sejak awal pembangunannya.
“Manajemennya dibiayai, digaji, tapi menghasilkan apa pun tidak,” lanjutnya dengan nada kritis.
Meski demikian, Dedi menegaskan wacana penghentian sementara operasional bandara bukan keputusan final. Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk membuka opsi perubahan skema pengelolaan agar bandara tersebut lebih produktif dan efisien.
Baca Juga: Nadiem Makarim Buka-bukaan di Pengadilan: Dari Dunia Startup ke Kursi Menteri Tanpa Bekal Birokrasi
Bandara Kertajati sendiri sebelumnya digadang-gadang menjadi pintu gerbang utama Jawa Barat dan penopang kawasan industri serta pariwisata di wilayah timur provinsi. Namun, berbagai kendala membuat pemanfaatannya belum optimal hingga saat ini.
Pernyataan Dedi Mulyadi ini pun memicu diskusi publik mengenai efektivitas proyek infrastruktur besar dan pentingnya perencanaan matang agar anggaran daerah benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.***
Artikel Terkait
Dikawal Ratusan Ojol, Nadiem Makarim Dilarang Bicara Pada Publik Dalam Sidang Dakwaan Pengadaan laptop chromebook
Mulai Kondusif Pasca Konflik, Kemenlu Klaim WNI di Venezuela Aman, Siapkan Kontingensi Jika Situasi Keamanan Memburuk
Nyaris Memaki Pelaku, Fiersa Besari Cerita Insiden Kecelakaan Istri di Gambir: 'Bukan Soal Uang, Tapi Keselamatan'
Presiden Prabowo Kembali Satukan Kabinet Merah Putih Lewat Retret di Hambalang Besok
Tanpa Seragam dan Beralas Tikar, Sekolah di Aceh Tamiang Dibuka Bertahap Pascabanjir
4 Tahun Pacaran Beda Agama, Yasmin Napper dan Giorgino Abraham Putus Dengan Baik
Ditinggal Setelah 56 Tahun Bersama, Pedangdut Legendaris Mansyur S Kehilangan Istri Tercinta
Nadiem Makarim Buka-bukaan di Pengadilan: Dari Dunia Startup ke Kursi Menteri Tanpa Bekal Birokrasi
Tiang Monorel Era Lama Akan Dibongkar, Pramono Anung Siap Percantik Rasuna Said dan Senayan
Muhammadiyah Resmi Tetapkan Awal Puasa 2026, Ramadhan Dimulai 18 Februari