Dianggap Coreng Etika Diplomasi, Pernyataan Tito Karnavian soal Bantuan Malaysia Tuai Kontroversi

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Senin, 22 Desember 2025 | 14:30 WIB
Potret Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian  (Instagram @titokarnavian)
Potret Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (Instagram @titokarnavian)

INSIBERNEWS - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian tuai kontroversi terkait ucapannya soal bantuan kemanusiaan dari Malaysia untuk korban banjir di Aceh.

Pernyataan yang awalnya dilontarkan dalam sebuah siniar kini berkembang menjadi polemik diplomatik yang dinilai melukai hubungan antarnegara serumpun.

Saat itu, Tito menyinggung bantuan medis dari Malaysia yang nilainya kurang dari Rp1 miliar atau sekitar 60 ribu dolar AS.

Baca Juga: Tanggapi Insiden Lansia Dilarang Bayar Tunai, Roti O Minta Maaf dan Ungkap Bakal Evaluasi Layanan Terhadap Pelanggan

Tito menyebut angka tersebut “tidak seberapa” jika dibandingkan dengan kemampuan anggaran Indonesia.

Selain ramai memicu perdebatan warganet. Reaksi keras datang dari tokoh senior Malaysia, mantan Menteri Luar Negeri Rais Yatim.

Rais Yatim secara terbuka menegur Tito melalui sebuah video yang viral di media sosial pada Jumat, 19 Desember 2025.

Baca Juga: Di Balik 91 Medali Emas, Cara Erick Thohir Mengapresiasi Atlet Dipertanyakan?

Dalam video tersebut, Rais Yatim menyampaikan kekecewaannya atas pernyataan Mendagri RI yang dianggap meremehkan niat baik Malaysia.

“Belajarlah adab dan budi bahasa sebelum bercakap di hadapan umum,” ujar Rais Yatim dengan nada tegas, menegaskan pentingnya etika dalam komunikasi pejabat publik.

Ia menekankan bahwa bantuan kemanusiaan seharusnya dipandang sebagai wujud solidaritas, bukan dinilai dari besar kecilnya angka.

Baca Juga: Uang Beredar Tumbuh Lebih Cepat, Likuiditas Ekonomi Tembus Rp9.891 Triliun

Di mata sebagian kalangan, pernyataan Tito tersebut terdengar merendahkan niat baik Malaysia, negara yang selama ini memiliki kedekatan historis, kultural, dan emosional dengan Indonesia, khususnya dengan masyarakat Aceh.

Pengamat hubungan internasional menilai kasus ini sebagai contoh klasik pentingnya kehati-hatian pejabat negara dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik. Satu kalimat yang keliru dapat berimplikasi luas, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung diplomasi regional.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X