Uang Beredar Tumbuh Lebih Cepat, Likuiditas Ekonomi Tembus Rp9.891 Triliun

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Senin, 22 Desember 2025 | 12:48 WIB
Ilustrasi Uang Rupiah (Foto : Era.id)
Ilustrasi Uang Rupiah (Foto : Era.id)

INSIBERNEWS - Likuiditas perekonomian nasional terus menunjukkan penguatan menjelang akhir 2025. Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas atau M2 mencapai Rp9.891,6 triliun pada November 2025, mencerminkan aktivitas ekonomi yang masih bergerak positif.

Secara tahunan, pertumbuhan M2 tercatat sebesar 8,3 persen (year on year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tumbuh 7,7 persen yoy, menandakan adanya akselerasi peredaran uang di masyarakat dan sektor usaha.

Baca Juga: Rencana 'Proyek Sunrise' untuk Gaza Picu Polemik, Kota Futuristik Berbasis AI Dinilai Tak Realistis

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa peningkatan likuiditas tersebut ditopang oleh sejumlah komponen utama uang beredar.

“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 11,4 persen yoy dan uang kuasi sebesar 5,9 persen yoy,” ujar Ramdan dalam pernyataan resmi BI, Senin (22/12/2025).

Uang beredar sempit atau M1, yang mencakup uang kartal dan giro, mencerminkan aktivitas transaksi harian masyarakat dan dunia usaha. Pertumbuhan M1 yang dua digit menunjukkan tingginya kebutuhan transaksi, sejalan dengan meningkatnya konsumsi dan aktivitas ekonomi menjelang akhir tahun.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Sumatera, Warga Diminta Waspada Risiko Pascabencana

Sementara itu, uang kuasi yang meliputi simpanan berjangka, tabungan, dan simpanan valuta asing, tetap tumbuh stabil. Kondisi ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih menjaga dana simpanan di perbankan, meski aktivitas belanja juga meningkat.

Bank Indonesia menilai, pertumbuhan likuiditas ini tetap berada dalam koridor yang sejalan dengan stabilitas moneter. BI terus memantau perkembangan uang beredar agar tetap mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.

Dari sisi penyaluran kredit, peningkatan likuiditas juga diharapkan mendorong pembiayaan ke sektor produktif. Kredit perbankan yang tumbuh sehat dinilai penting untuk menjaga momentum pemulihan dan ekspansi ekonomi nasional.

Baca Juga: Kecelakaan Maut Bus Cahaya Trans di Tol Krapyak Dini Hari, 16 Orang Meninggal Dunia

BI menegaskan akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang terukur.

Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan dinamika uang beredar masih akan dipengaruhi oleh belanja masyarakat, kinerja dunia usaha, serta kebijakan fiskal dan moneter yang ditempuh pemerintah dan otoritas terkait.***

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X