INSIBERNEWS – Beberapa hari terakhir, warga Jakarta dan sekitarnya mungkin bertanya-tanya: kenapa udara terasa lebih dingin, padahal kita sedang memasuki musim kemarau?
Suhu di pagi dan malam hari sempat turun hingga kisaran 25–27 derajat Celsius, membuat banyak orang merasa seperti sedang berada di dataran tinggi.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca dingin yang melanda bukanlah hal aneh, justru ini adalah fenomena alamiah yang sering muncul saat kemarau, terutama di pertengahan tahun.
Baca Juga: Lurah Pinjam Uang ke PPSU, Gubernur Pramono Anung Langsung Ambil Tindakan Tegas
Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa salah satu pemicunya adalah Angin Monsun Australia.
Angin ini bergerak dari Benua Australia menuju Asia, melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia yang airnya relatif dingin.
Udara yang terbawa oleh angin ini kering dan minim uap air, sehingga saat malam hari, suhu bisa turun drastis dan udara terasa lebih menusuk.
Baca Juga: Sempat Curhat Suaminya Kecanduan Judol, Chikita Meidy Kini Justru Dilaporkan KDRT
Tak hanya itu, badai tropis yang sedang berkembang di utara Indonesia dan timur Filipina juga turut memperkuat tiupan angin dari Australia.
Kombinasi ini menyebabkan udara dingin semakin terasa, terutama di wilayah barat Pulau Jawa yang menerima aliran udara tersebut secara langsung.
BMKG memprediksi fenomena ini akan bertahan hingga akhir Juli.
Baca Juga: Subsidi Listrik 2026 Diusulkan Capai Rp104 Triliun, Fokus untuk Warga Tak Mampu dan Daerah 3T
Selama periode ini, suhu pagi dan siang hari di Jakarta diperkirakan tetap berada di kisaran 25–27 derajat Celsius, sementara malam hari bisa lebih rendah lagi.
Fenomena udara dingin ini sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat Jawa dengan sebutan "Bediding".
Kondisi saat udara pagi dan malam hari terasa sangat dingin di musim kemarau.
Baca Juga: Tarif Ojol Bakal Naik? Kemenhub Finalisasi Aturan, Kenaikan Capai 15 Persen
Secara ilmiah, ini terjadi karena minimnya awan dan hujan, sehingga panas yang diterima permukaan Bumi di siang hari langsung dipantulkan kembali ke atmosfer pada malam hari.
Akibatnya, udara di permukaan menjadi lebih cepat dingin.
Kondisi langit yang cerah tanpa awan juga berarti sinar matahari akan langsung menyengat saat siang hari.
Baca Juga: HYBE Bangun Anak Perusahaan di India, KPop Siap Menyatu dengan Budaya Bollywood?
Tapi anehnya, suhu udara tetap tidak terlalu panas karena efek udara dingin dari monsun Australia lebih dominan.
Menariknya, fenomena ini tak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Wilayah lain di Indonesia bagian selatan seperti Sumatera Selatan, Jawa bagian selatan, Bali, NTT, dan NTB juga merasakan hawa yang sama.
Pada bulan Juli yang menjadi puncak musim dingin di Australia, udara dingin dari selatan turut mengalir ke wilayah-wilayah tersebut, membuat suhu siang hari pun ikut turun.
Baca Juga: Stella Hearts2Hearts Ungkap Pernah Dilirik 32 Agensi KPop Sebelum Bergabung dengan SM Entertainment
Jadi, jika akhir-akhir ini kamu merasa perlu jaket di pagi atau malam hari, jangan heran.
Alam sedang bekerja seperti biasa menyajikan musim kemarau dengan cara yang sedikit berbeda, namun sepenuhnya normal.
Artikel Terkait
Soroti Insiden Juliana Marins, Menhut Sarankan Healing ke Mal: Naik Gunung Perlu Edukasi dan Persiapan
HYBE Bangun Anak Perusahaan di India, KPop Siap Menyatu dengan Budaya Bollywood?
Tarif Ojol Bakal Naik? Kemenhub Finalisasi Aturan, Kenaikan Capai 15 Persen
Subsidi Listrik 2026 Diusulkan Capai Rp104 Triliun, Fokus untuk Warga Tak Mampu dan Daerah 3T
Sempat Curhat Suaminya Kecanduan Judol, Chikita Meidy Kini Justru Dilaporkan KDRT
Lurah Pinjam Uang ke PPSU, Gubernur Pramono Anung Langsung Ambil Tindakan Tegas