INSIBERNEWS - Dunia dikejutkan oleh pengumuman mendadak dari televisi pemerintah Iran pada Selasa, 24 Juni 2025, yang menyatakan gencatan senjata dengan Israel. Namun, kabar ini justru memicu kebingungan karena serangan rudal Iran masih terus menghujani wilayah Israel, membuat sirene peringatan meraung di berbagai kota.
Kontradiksi ini menyulut ketegangan baru, dengan masyarakat internasional mempertanyakan apa sebenarnya maksud Iran di tengah situasi yang kian memanas.
Baca Juga: Haji 2025 Diaduk Keluhan, DPR Siap Bentuk Pansus untuk Benahi Pelayanan Jemaah
Menurut laporan Reuters, pengumuman gencatan senjata itu ditampilkan dalam bentuk visual sederhana di layar televisi Iran, tanpa narasi atau penjelasan rinci. Sementara itu, dalam kurun waktu tiga jam setelah pengumuman, Israel mencatat tujuh peringatan serangan rudal di wilayahnya, termasuk di kota-kota seperti Tel Aviv dan Beer Sheva.
“Kami meminta warga untuk tetap berada di tempat perlindungan sampai situasi aman,” ujar juru bicara militer Israel, Letkol Daniel Hagari, dalam konferensi pers darurat.
Serangan ini bukan tanpa korban—setidaknya empat orang tewas di Beer Sheva, dengan belasan lainnya luka-luka.
Baca Juga: Skandal Akuisisi Rp1,2 Triliun: KPK Geledah Rumah Elite, Sita Senjata hingga Mobil Mewah
Di tengah kekacauan, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mencoba menjelaskan posisi negaranya. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia menegaskan bahwa Iran bersedia menghentikan serangan, tetapi dengan syarat.
“Kami akan berhenti jika Israel lebih dulu menghentikan agresinya di kawasan, terutama di Gaza dan Lebanon,” katanya. Araghchi juga menyebut bahwa belum ada kesepakatan formal soal gencatan senjata, sehingga situasi di lapangan masih jauh dari tenang.
Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa pengumuman Iran lebih merupakan manuver diplomatik ketimbang komitmen nyata.
Baca Juga: Netizen Brasil Ramai-ramai Tag Prabowo, Istana Respons Serbuan Soal Pendaki Jatuh di Rinjani
Di belakang layar, diplomasi internasional bergerak cepat untuk meredakan konflik. Sumber dari Washington Post menyebut bahwa Presiden AS, Donald Trump, telah meminta bantuan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, untuk menengahi pembicaraan dengan Iran.
Qatar, yang dikenal memiliki hubungan baik dengan Teheran, disebut berhasil mendorong Iran untuk setuju pada gencatan senjata sementara. Namun, implementasinya di lapangan masih penuh tanda tanya. “Kami sudah berkomunikasi dengan semua pihak, tapi situasinya sangat rapuh,” ujar seorang pejabat Qatar yang enggan disebut namanya.
Baca Juga: Peserta Dating Show I Am Solo Diduga Lakukan Pelecehan Seksual
Artikel Terkait
Meski Miliki Perbedaan, How To Train Your Dragon Versi Live Action Tak Kalah Sukses Dengan Versi Animasi!
Dipuji Kritikus Film Sebagai Salah Satu Film Terbaik Disney, Elio Tetap Tak Bisa Curi Perhatian
Tidak Aktif Di Bubble Selama Setahun, Fan Service Shuhua Kurang Memuaskan
Idol Juga Bisa Kena Scam, Momen Kocak Wonhee Illit Beli Labubu KW
Nikita Mirzani Sebut Tak Ada Tindak Pemerasan Terhadap Reza Gladys, Ia Tuntut Reza Minta Maaf Dalam 1 Hari 24 Jam
Peserta Dating Show I Am Solo Diduga Lakukan Pelecehan Seksual
Tinggalkan Pesan Perpisahan, ILY:1 Isyaratkan Bubar?
Netizen Brasil Ramai-ramai Tag Prabowo, Istana Respons Serbuan Soal Pendaki Jatuh di Rinjani
Skandal Akuisisi Rp1,2 Triliun: KPK Geledah Rumah Elite, Sita Senjata hingga Mobil Mewah
Haji 2025 Diaduk Keluhan, DPR Siap Bentuk Pansus untuk Benahi Pelayanan Jemaah