INSIBERNEWS - Apple, sang raksasa teknologi asal Cupertino, tampaknya sedang berada di ujung tanduk setelah kebijakan tarif terbaru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada awal April lalu.
Kebijakan yang berlaku untuk hampir 200 negara ini memberikan pukulan telak, terutama karena Vietnam dan China—dua negara kunci dalam rantai pasok Apple—masuk dalam daftar negara yang terdampak besar.
Baca Juga: Hadapi Tarif Baru AS, Indonesia Pilih Jalan Damai Lewat Diplomasi dan Dialog
Trump secara resmi menetapkan tarif baru hingga 46 persen untuk Vietnam dan 34 persen untuk China. Mengingat dua negara itu berperan penting dalam proses produksi dan perakitan produk Apple, lonjakan biaya produksi pun tak bisa dihindari.
Dalam situasi seperti ini, Apple harus mempertimbangkan berbagai langkah untuk tetap bertahan—termasuk kemungkinan terburuk: menaikkan harga produknya secara signifikan.
Analis dari Rosenblatt Securities, Barton Crockett, memprediksi bahwa Apple bisa menghadapi beban tarif hingga USD40 miliar jika situasi ini tidak segera berubah.
Dalam laporan analisnya yang dikutip dari Business Insider, Crockett memperkirakan bahwa agar perusahaan tetap mendapat margin keuntungan yang sehat, harga produk seperti iPhone bisa melonjak hingga 40 persen.
Ini tentu menjadi kabar kurang menyenangkan bagi para pengguna setia iPhone di seluruh dunia.
Baca Juga: Seorang Jurnalis Ditemukan Tewas di Kamar Hotel Jakarta Barat, Polisi Selidiki Penyebabnya
Dampak dari kabar ini pun langsung terasa di lantai bursa. Saham Apple anjlok lebih dari delapan persen pada penutupan pasar pasca pengumuman kebijakan tarif Trump—angka penurunan harian terbesar yang dialami Apple dalam lima tahun terakhir.
Ketidakpastian pasar dan potensi kenaikan harga produk membuat para investor waswas, sementara konsumen pun mulai bertanya-tanya: apakah iPhone generasi berikutnya akan jauh lebih mahal?
Baca Juga: Go Global! Minyak Telon Lokal UMKM Binaan BRI Sukses Ekspor ke Mancanegara
Kini, Apple dihadapkan pada pilihan sulit: apakah mereka akan mengorbankan margin keuntungan demi menjaga harga tetap stabil, atau memilih menaikkan harga demi menutup lonjakan biaya produksi.
Artikel Terkait
Ridwan Kamil Tempuh Jalur Hukum Usai Dituding Selingkuh, Tim Kuasa Hukum Siap Polisikan Lisa Mariana
Megawati Bikin Geger! Cetak 40 Poin, Red Sparks Bangkit Dramatis Lawan Pink Spiders
One Way Diterapkan di Jateng, Arus Balik Lebaran Mulai Padat dari Kalikangkung ke Brebes
Ternyata Pisang Punya DNA Mirip Manusia, Ini Penjelasannya!
Go Global! Minyak Telon Lokal UMKM Binaan BRI Sukses Ekspor ke Mancanegara
Desa BRILiaN Ini Bagikan THR Hingga Sediakan Jaminan Sosial Untuk Warganya, Berikut Kisah Inspiratif dari Desa Wunut
BRI Dorong Produk Warisan Budaya Tembus Pasar Internasional, Intip Cerita Sukses UMKM Unici Songket Silungkang
Seorang Jurnalis Ditemukan Tewas di Kamar Hotel Jakarta Barat, Polisi Selidiki Penyebabnya
Hadapi Arus Balik Mudik, BRI Siapkan Posko BUMN di Bandara dan Rest Area Jalan Tol Guna Mudahkan Perjalanan Masyarakat
Hadapi Tarif Baru AS, Indonesia Pilih Jalan Damai Lewat Diplomasi dan Dialog