INSIBERNEWS - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, optimistis bahwa kebijakan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) akan menjadi salah satu faktor utama dalam memperkuat nilai tukar rupiah yang belakangan mengalami pelemahan.
Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia masih dalam keadaan stabil, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh angka Rp16.611 per dolar AS pada Selasa (25/3/2025).
"Rupiah memang biasa berfluktuasi, tetapi secara fundamental tetap kuat. Kita akan melihat dampaknya dalam jangka menengah dan panjang," ujar Airlangga di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (26/3/2025).
Ia menjelaskan bahwa nilai tukar mata uang suatu negara memang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk situasi global, aliran modal asing, dan kebijakan ekonomi dalam negeri. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah memiliki strategi untuk memastikan kestabilan rupiah, salah satunya dengan mengoptimalkan devisa hasil ekspor.
Baca Juga: Mengapa Danantara Butuh WNA? Bahlil: Mereka Punya Pengalaman Kelola Aset Negara Kelas Dunia
Kebijakan DHE dan Dampaknya terhadap Rupiah
Salah satu langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah adalah meminta agar devisa hasil ekspor dari sumber daya alam disimpan sepenuhnya di bank dalam negeri. Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan pentingnya kebijakan ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan cadangan devisa nasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut Airlangga, kebijakan ini akan memberikan dampak positif dalam memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.
"Dengan devisa hasil ekspor yang kita kelola dengan baik, fundamental ekonomi kita akan semakin kuat dan memperkuat posisi rupiah," jelasnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa saat ini ekspor Indonesia dalam kondisi yang baik, cadangan devisa cukup kuat, dan neraca perdagangan tetap menunjukkan tren positif.
"Kita memiliki ekspor yang bagus, cadangan devisa yang memadai, dan neraca perdagangan yang positif. Semua ini menunjukkan bahwa secara fundamental ekonomi kita dalam keadaan baik," tambahnya.
Pemerintah juga akan terus memantau dan menyesuaikan kebijakan ekonomi sesuai dengan kondisi global dan domestik agar dapat menjaga stabilitas ekonomi secara berkelanjutan.
Bank Indonesia: Ekonomi Indonesia Tetap Stabil
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional tetap dalam keadaan stabil, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan dan nilai tukar rupiah melemah.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) BI, Solikin M Juhro, menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG mencerminkan kondisi ekonomi yang buruk.
Artikel Terkait
Ingin Jadi Personel Damkar? Harus Penuhi Syarat Tidak Boleh Takut Ketinggian dan Gelap
SMK 4 Tahun? Pemerintah Siapkan Lulusan yang Lebih Siap Kerja ke Luar Negeri dengan Sistem Pendidikan Baru
3 Juta Lebih Lulusan SMA SMK Menganggur! Ini Strategi Pemerintah Atasi Pengangguran Kaum Muda Gen Z
Menaker Yassierli: Anjloknya IHSG Tak Berdampak pada Ketenagakerjaan, Pemerintah Fokus Siapkan Skill Pekerja
iPhone 16 Series Resmi Rilis di Indonesia 11 April 2025! Ini Daftar Model & Fitur Terbarunya
Rasio KPR di Indonesia Masih Rendah, BI Soroti Kesenjangan Perumahan di Daerah Padat Penduduk
Dari Krisis 1998 ke 2025: BI Buktikan Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat dan Bandingkan Ketahanan Ekonomi RI di Tengah Gejolak Pasar
Rosan Roeslani Larang Rangkap Jabatan, Tapi Dirinya Justru Pegang 2 Posisi Strategis - Ini Alasannya!
Danantara Indonesia Akan Tata Ulang Holding BUMN, Pilih BKI Sebagai Induk, Ini Kriteria Kesehatan Finansial yang Jadi Pertimbangan
Mengapa Danantara Butuh WNA? Bahlil: Mereka Punya Pengalaman Kelola Aset Negara Kelas Dunia