Bahlil Lahadalia: Indonesia Siap Produksi 70 Ton Emas per Tahun, Pabrik Pemurnian Logam Mulia Jadi yang Terbesar di Dunia

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Kamis, 20 Maret 2025 | 12:02 WIB
Bahlil Lahadalia Ungkap Target Indonesia Produksi 70 Ton Emas Setiap Tahun  (Instagram @bahlillahadalia)
Bahlil Lahadalia Ungkap Target Indonesia Produksi 70 Ton Emas Setiap Tahun (Instagram @bahlillahadalia)

INSIBERNEWS - Indonesia terus mengukir langkah maju dalam industri logam mulia dengan kapasitas produksi emas yang semakin besar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia diperkirakan mampu memproduksi hingga 70 ton emas per tahun, berkat adanya pabrik pemurnian logam mulia di Gresik, Jawa Timur, dan PT Amman Mineral Internasional.

Bahlil menjelaskan, dua pabrik tersebut berpotensi menghasilkan antara 60 hingga 70 ton emas setiap tahunnya. Pabrik di Gresik sendiri, yang dikenal sebagai smelter single line terbesar di dunia dari hulu ke hilir, mampu mengolah konsentrat sebanyak 3 juta ton yang menghasilkan 50 hingga 60 ton emas.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional juga memproduksi 18 hingga 20 ton emas dari konsentrat yang diproses sebanyak 900 ribu ton.

"Ini adalah hasil dari upaya kita dalam mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah, yang merupakan arahan langsung dari Presiden untuk memaksimalkan potensi industri logam mulia dalam negeri," ujar Bahlil.

 Baca Juga: Harga Emas Terus Melonjak di Tengah Anjloknya IHSG, Analis Prediksi Kenaikan Belum Berhenti

Pabrik Pemurnian Logam Mulia Terbesar di Dunia

Dalam acara peresmian pabrik pemurnian logam mulia di Gresik, yang dihadiri oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, pabrik tersebut diakui sebagai smelter pemurnian logam terbesar di dunia dari sisi pengolahan bahan baku hingga barang jadi. Pabrik ini akan mengubah konsentrat yang dibawa ke Indonesia menjadi produk akhir seperti perak, kobalt, dan tentunya emas.

Prabowo Subianto menekankan pentingnya pengolahan bahan baku dalam negeri, yang tidak hanya menghasilkan barang mentah, melainkan juga produk jadi yang memiliki nilai tambah tinggi. "Indonesia tidak hanya akan menjual bahan baku, tetapi kita juga akan menjual barang-barang jadi yang memiliki nilai tambah yang sangat besar," ungkap Prabowo.

Dengan pabrik pengolahan ini, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan fokus pada peningkatan industri hilir yang memberi nilai tambah, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kontribusi ekonomi nasional.

 Baca Juga: Presiden Prabowo Siap Temui Investor Pasar Modal Setelah IHSG Anjlok, Luhut Pastikan Pemerintah Tetap Hati-hati

Potensi Pengembangan Tambang Baru

Bahlil menambahkan bahwa selain pabrik yang sudah ada, Indonesia juga akan terus mengembangkan sektor tambang untuk memperkuat produksi emas.

Pemerintah, melalui arahan Presiden, berencana untuk membangun beberapa tambang baru, terutama di sektor tembaga, untuk memperluas kapasitas produksi logam mulia dalam negeri.

Pengembangan sektor hulu hingga hilir dalam industri logam mulia ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri logam mulia global.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X