Kecerdasan Terganggu? Ini Alasan Mengapa Terlalu Sering Ikut Gosip dan Terobsesi dengan Selebritis Bisa Membuat Otak Menjadi Lemah!

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Rabu, 12 Februari 2025 | 16:59 WIB
Foto ilustrasi Obsesi Selebritis Dapat Merusak Kemampuan Kognitif Anda ( Gambar oleh freepik)
Foto ilustrasi Obsesi Selebritis Dapat Merusak Kemampuan Kognitif Anda ( Gambar oleh freepik)

INSIBERNEWS - Kehidupan selebritas memang selalu menarik perhatian. Dari kisah asmara yang sensasional hingga drama Hollywood yang penuh warna, rasanya tak ada habisnya topik tentang para bintang.

Namun, tahukah Anda bahwa obsesinya terhadap kehidupan para selebritas bisa berdampak pada kecerdasan Anda? Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan fakta mengejutkan tentang hubungan antara ketertarikan berlebihan pada selebritas dan tingkat kecerdasan seseorang.

Penelitian ini dilakukan oleh akademisi asal Hongaria dan diterbitkan dalam jurnal BMC Psychology pada akhir 2021. Hasilnya cukup mengejutkan: orang yang terobsesi dengan selebritas, terutama yang sering mengikuti gosip-gosip Hollywood, cenderung memiliki kecerdasan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan mereka yang lebih fokus pada hal-hal lain.

 Baca Juga: Presiden Turki Erdogan Tiba di Jakarta, Bahas Kerja Sama Bilateral dan Isu Global

Kaitan Antara Pemujaan Selebritas dan Kinerja Kognitif

Studi ini, yang berjudul “Celebrity Worship and Cognitive Skills Revisited,” menerapkan teori kecerdasan yang diajukan oleh psikolog terkenal Raymond B. Cattell pada 1963. Cattell membagi kecerdasan manusia menjadi dua kategori utama: kecerdasan cair (fluid intelligence) dan kecerdasan mengkristal (crystallized intelligence). Keduanya mengukur kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah dan memahami informasi baru, namun penelitian ini lebih fokus pada bagaimana kedua jenis kecerdasan ini berhubungan dengan tingkat pemujaan terhadap selebritas.

Dalam penelitian tersebut, 1.763 orang dewasa asal Hongaria mengikuti dua tes kognitif untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi mereka. Tes pertama menguji kosakata dengan meminta peserta untuk mengenali 30 kata, sementara tes kedua mengukur keterampilan numerasi melalui substitusi simbol angka.

Setelah itu, mereka diminta mengisi kuesioner yang disebut Celebrity Attitude Scale. Kuesioner ini dirancang untuk mengukur seberapa besar ketertarikan mereka pada selebritas, dengan pertanyaan seperti:

  • “Saya sering merasa terdorong untuk mempelajari kebiasaan pribadi selebritas favorit saya.”
  • “Saya terobsesi dengan detail kehidupan selebritas favorit saya.”

Hasilnya? Ternyata, mereka yang memiliki skor tinggi pada Celebrity Attitude Scale menunjukkan hasil yang lebih buruk pada tes-tes kognitif tersebut. Artinya, semakin tinggi tingkat obsesi seseorang terhadap selebritas, semakin rendah kinerja mereka pada tes yang mengukur keterampilan literasi dan numerasi.

 Baca Juga: Geely Gandeng DeepSeek, AI Canggih Bakal Ubah Cara Kita Berkendara

Pemujaan Selebritas: Sebab atau Akibat?

Meskipun hubungan antara pemujaan selebritas dan skor tes yang lebih rendah jelas terlihat, para peneliti tidak dapat memastikan apakah obsesi ini yang menyebabkan penurunan kecerdasan atau sebaliknya. Apakah mereka yang sudah kurang cerdas lebih mudah terobsesi dengan kehidupan para selebritas, ataukah terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk mengikuti gosip-gosip Hollywood memengaruhi daya pikir mereka?

Penelitian ini belum sepenuhnya bisa menjawab pertanyaan tersebut. Namun, satu hal yang pasti: pengaruh dari obsesinya terhadap selebritas bisa cukup besar, bahkan jika belum terbukti bahwa itu penyebab langsung dari penurunan kecerdasan.

Para peneliti mengakui bahwa masih banyak yang perlu diteliti lebih lanjut. Mereka menyarankan agar studi-studi di masa depan lebih fokus pada bagaimana kecerdasan seseorang bisa terganggu oleh usaha kognitif yang terlibat dalam mengikuti kehidupan selebritas. Bisa jadi, perhatian yang dibutuhkan untuk mengingat detail kehidupan pribadi selebritas memengaruhi kemampuan seseorang dalam melakukan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan kognitif lebih tinggi.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X