INSIBERNEWS — Mona Ratuliu, artis sekaligus aktivis yang dikenal vokal mendukung isu kesehatan mental, tak hanya berbicara sebagai publik figur, tapi juga sebagai ibu dari seorang pejuang kesehatan jiwa.
Putrinya, Davina Shafa Felisha atau akrab disapa Mima, telah melalui perjalanan panjang menghadapi tantangan mental sejak usia belia.
Mima mulai mengalami gangguan kecemasan saat berumur 11 tahun. Ia mengaku, salah satu pemicu utamanya adalah pengalaman dirundung saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Baca Juga: Dorong Sektor Pertanian Jadi Motor Utama, BRI Salurkan KUR Senilai Rp83,38 Triliun
Ketika menginjak usia remaja, terutama di masa SMP, Mima mulai merasakan gejala depresi yang memburuk dari waktu ke waktu.
Namun selama delapan tahun, dari usia 11 hingga 19 tahun, Mima tidak mendapatkan diagnosis yang jelas atas kondisi yang dialaminya.
Ia sempat menjalani terapi psikologis dan merasa sedikit membaik, namun gangguan yang dirasakan selalu kembali secara berulang.
Baca Juga: Bukan Skandal Baru? Lady Nayoan Jawab Isu Selingkuh Rendy dan Cewek Gereja, Ini Faktanya!
“Jadi, dari umur aku 11 sampai 19 tahun itu, aku belum pernah dapat diagnosis yang pasti. Enggak ada jawabannya tuh buat aku stres. Perasaan aku capek karena enggak ada treatment yang tepat, jawaban yang tepat, enggak ada kepastian. Ke psikolog membaik, tapi nanti siklusnya berulang terus.”
Mima baru mengetahui bahwa dirinya mengidap gangguan bipolar dan borderline personality disorder ketika berusia 19 tahun.
Bipolar disorder sendiri merupakan gangguan suasana hati (mood disorder) yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan emosi ekstrem, dari fase mania (sangat bersemangat, impulsif, penuh energi) ke fase depresi (sangat sedih, tidak bersemangat, putus asa).
Baca Juga: BLACKPINK Tembus Puncak Global Lagi Lewat Lagu 'Jump', Catat Sejarah Baru di Billboard
Sedangkan BPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan emosi yang sangat tidak stabil, takut ditinggalkan, identitas diri yang kabur, dan hubungan sosial yang tidak konsisten.
Penderita BPD sering merasa kosong, mudah marah, impulsif, dan sering bertindak ekstrem untuk menghindari rasa ditolak atau sendirian.
Setelah menerima diagnosis yang tepat, ia akhirnya bisa menjalani penanganan medis dan terapi yang sesuai.
Baca Juga: Polemik Transfer Data Pribadi ke AS, Menkominfo Minta Publik Tunggu Penjelasan Resmi
Kini, di usia 22 tahun, Mima lebih terbuka berbicara mengenai kesehatan mental dan aktif mengedukasi publik, terutama anak muda, tentang pentingnya mengenali dan menangani gangguan jiwa sejak dini.
Kisah Mima bukan satu-satunya, ia bisa menjadi cerminan kondisi serius yang tengah dihadapi banyak anak di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, satu dari tiga anak usia 10 hingga 17 tahun diketahui mengalami masalah kesehatan mental.
Baca Juga: Rupiah Mulai Menguat Tipis, Sinyal Positif dari Pasar Pagi Ini
Psikolog klinis pun mengingatkan, temuan ini adalah sinyal bahaya bahwa "banyak anak Indonesia yang tidak baik-baik saja".
Jumlah kunjungan anak dan remaja ke biro psikologi pun meningkat sebesar 20 hingga 30 persen dalam beberapa tahun terakhir, dan diperkirakan akan terus naik hingga tahun 2025.
Hal ini menandakan meningkatnya kesadaran, namun juga menunjukkan kebutuhan yang belum terpenuhi di bidang kesehatan mental anak.
Baca Juga: Makna Dibalik Logo HUT RI-80 yang Diresmikan Presiden Prabowo
Najelaa Shihab, psikolog dan pendidik, menegaskan bahwa kondisi mental anak tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek kehidupan mereka.
Mulai dari pola asuh di rumah, metode pembelajaran di sekolah, interaksi sosial dengan teman sebaya, hingga faktor biologis dan pengalaman pribadi masing-masing anak, semua turut mempengaruhi kondisi psikologis mereka.
Meski kini kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental mulai tumbuh di kalangan orang tua dan masyarakat luas, gejala awal masih kerap disalahpahami.
Baca Juga: Polemik Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Roy Suryo Minta Polda Metro Jaya Gelar Perkara Khusus
Anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda gangguan psikologis sering kali dianggap sekadar “nakal”, “malas”, atau “manja”, sehingga tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan sejak dini.
Dengan kisahnya, Mima berharap bisa menjadi suara bagi anak-anak dan remaja lain yang mungkin sedang berjuang dalam diam.
Ia juga mengajak lebih banyak pihak, termasuk orang tua, pendidik, dan pengambil kebijakan, untuk peduli dan membangun lingkungan yang aman bagi kesehatan mental generasi muda.
Artikel Terkait
Sound Horeg Akhir-Akhir Ini Banyak Dibahas dan Dapat Komentar, Pemilik Sebut Selama Ini Tak Ada Yang Komplain
Polemik Transfer Data Pribadi ke AS, Menkominfo Minta Publik Tunggu Penjelasan Resmi
BLACKPINK Tembus Puncak Global Lagi Lewat Lagu 'Jump', Catat Sejarah Baru di Billboard
Bukan Skandal Baru? Lady Nayoan Jawab Isu Selingkuh Rendy dan Cewek Gereja, Ini Faktanya!
Diam-Diam Erika Carlina Sudah Laporkan Dj Panda Sejak Hari Pertama Ia Speak Up Soal Kehamilannya
Dorong Sektor Pertanian Jadi Motor Utama, BRI Salurkan KUR Senilai Rp83,38 Triliun