otomotif

Pabrik Baterai Raksasa Karawang Beroperasi, Sinyal Kuat Harga Mobil Listrik Bakal Makin Terjangkau

Senin, 28 September 2026 | 11:38 WIB
Ilustrasi foto - Menyoroti keberadaan pabrik baterai kendaraan listrik di RI yang berpeluang menjadikan mobil listrik lebih murah dari harga pasar saat ini. (Unsplash.com / @vanyasmythe)
INSIBERNEWS - Harapan konsumen untuk memiliki kendaraan ramah lingkungan dengan harga miring tampaknya bakal segera terwujud seiring beroperasinya pabrik baterai kendaraan listrik (EV) raksasa milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.
 
Kehadiran fasilitas megah hasil patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan raksasa Tiongkok CATL ini, semakin mengukuhkan taring Indonesia sebagai episentrum ekosistem baterai terintegrasi di kawasan Asia.

Kapasitas produksi masif dari pabrik terbesar kedua di Tanah Air ini dipastikan mampu memangkas biaya perakitan EV secara signifikan.
 
Menilik progres operasionalnya, Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjamin bahwa fasilitas yang disokong oleh melimpahnya cadangan nikel domestik tersebut sudah mulai mendistribusikan komponen daya mutakhir untuk memenuhi dahaga industri.
 
Baca Juga: Tragis! Pemuda di Makassar Tewas Usai Diduga Tertembak Peluru Nyasar, Lima Polisi Diperiksa

"Sekarang kondisinya sudah seperti ini, jadi memang sudah beroperasi sejak bulan Juli 2026. Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk Battery Energy Storage System (BESS)," terang Aditya memberikan konfirmasi saat ditemui awak media di kawasan Energy Building, Jakarta Pusat.

Sinyalemen rontoknya harga mobil listrik di pasaran juga kian menguat berkat gebrakan inovatif dari para ilmuwan Western University yang sukses meracik formula baterai natrium-ion (Na-ion) berbasis solid-state.
 
Inovasi mutakhir ini diklaim jauh lebih ekonomis sekaligus kebal dari risiko ledakan termal akibat korsleting, sebuah kelemahan fatal yang selama ini membayangi pengguna baterai lithium-ion (Li-ion) konvensional.
 
Baca Juga: Dikritik Sibuk Bikin Konten Saat Evakuasi Virgo Transport 8, Penyelam Basarnas Beri Penjelasan

"Kami mengganti elektrolit cair organik di dalam baterai menjadi elektrolit solid-state yang sama sekali tidak mudah terbakar," urai Profesor Yang Zhao memaparkan bahwa teknologi racikannya mampu menghadirkan standar keamanan absolut tanpa harus mengorbankan durabilitas kendaraan di masa depan.

Merespons tuntutan efisiensi rantai pasok global tersebut, raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, rupanya enggan bergantung pada pihak ketiga dan memilih merintis pembangunan pabrik perakitan serta baterai mandiri di Szeged, Hungaria.
 
Penasihat operasional BYD Eropa, Alfredo Altavilla, menyadari betul bahwa kemandirian memproduksi baterai sendiri adalah satu-satunya jalan rasional untuk memenangi persaingan harga.

"Dalam jangka panjang, kami akan membutuhkan tiga pabrik perakitan kendaraan dan satu pabrik baterai khusus. Tentu saja, hal ini tidak bisa terwujud dalam sekejap mata, namun sangat jelas bahwa untuk mencapai target volume penjualan sekaligus mematuhi regulasi ketat Eropa, fasilitas mandiri itulah yang wajib kami miliki," pungkas Alfredo menutup penjelasan ambisiusnya.***
 

Tags

Terkini