INSIBERNEWS - Dunia kecerdasan buatan kembali memanas! Kali ini, sebuah aplikasi AI asal China bernama DeepSeek bikin heboh Amerika Serikat. Kabarnya, Gedung Putih sampai turun tangan karena khawatir teknologi ini bisa mengancam dominasi AI buatan Amerika.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa Dewan Keamanan Nasional sedang mengkaji dampak keamanan nasional dari DeepSeek. Menurutnya, ini adalah "peringatan bagi industri AI Amerika."
Saham Teknologi Langsung Rontok!
Begitu kabar ini mencuat, pasar langsung bereaksi. Para investor panik dan mulai menjual saham teknologi di berbagai belahan dunia. Kenapa? Mereka khawatir AI murah dari China ini bisa jadi ancaman besar buat raksasa AI seperti OpenAI dan Google.
David Sacks, kepala bidang AI dan kripto di Gedung Putih, bahkan mencurigai adanya pencurian teknologi. Dalam wawancaranya di Fox News, ia bilang ada kemungkinan DeepSeek menggunakan teknik "distilasi," yaitu metode di mana satu model AI belajar dari model lain.
Baca Juga: Hakim AS Stop Sementara Pemotongan Dana Donald Trump! Akankah Bantuan Keuangan Federal Selamat?
Trump: China Punya Teknologi AI Lebih Murah & Cepat!
Mantan Presiden Donald Trump juga angkat bicara. Menurutnya, DeepSeek bisa jadi peringatan bagi industri AI AS agar lebih kompetitif. Uniknya, Trump justru melihat ini sebagai sesuatu yang positif!
"Kami selalu punya ide dan selalu jadi yang pertama. Jadi, kalau China bisa membuat AI lebih murah dan cepat, maka perusahaan kita juga bisa," ujar Trump.
Tapi tentu saja, pemerintahan AS nggak tinggal diam. Departemen Perdagangan sudah lama berusaha membatasi ekspor chip AI ke China. Kini, dengan kehadiran DeepSeek, tampaknya mereka akan semakin waspada.
Apakah AS Bisa Kalah di Perang AI?
Dengan China yang semakin agresif mengembangkan teknologi AI, mampukah AS tetap mempertahankan dominasinya? Ataukah ini justru awal dari era baru di mana China mulai memimpin dalam dunia kecerdasan buatan?