INSIBERNEWS - Pihak Istana melalui Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pedoman prosedur operasional standar (SOP) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini disampaikan setelah terjadi insiden keracunan makanan yang melibatkan puluhan siswa di SDN Dukuh 03 Sukoharjo, Jawa Tengah.
Baca Juga: Jorge Martin Pilih Pelat Nomor 1 di MotoGP 2025: Saya Telah Berjuang untuk Ini
Sebanyak 40 siswa dilaporkan mengalami mual dan muntah usai menyantap ayam yang dimarinasi dalam program tersebut.
Hasan mengungkapkan, kejadian ini terjadi pada Kamis, 16 Januari 2025, sekitar pukul 09.30 WIB, setelah makan siang bergizi gratis sampai di sekolah pada pukul 09.00 WIB.
Baca Juga: Negara Terima Rp10,88 Triliun dari BRI melalui Pembayaran Dividen Interim Sebesar Rp20,33 Triliun
Ia menekankan bahwa insiden semacam ini harus menjadi bahan evaluasi penting bagi BGN untuk memperketat pengawasan dan prosedur yang berlaku.
"Kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi serius untuk BGN, agar kualitas dan kehigienisan makanan terjamin," ujarnya.
Baca Juga: Usulan Cukai Rokok untuk Program Makan Bergizi Gratis, Irma Suryani: Rp150 Triliun, Masalah Selesai
Menyikapi hal ini, pihak sekolah langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang kemudian segera mengganti menu makanan untuk para siswa.
"Menurut SOP, jika ada kejadian yang tidak diinginkan, pihak sekolah wajib melapor kepada SPPG dan Puskesmas. Makanan yang terkontaminasi langsung ditarik dan diganti dengan menu lain," jelas Hasan.
Baca Juga: Strategi Agar Kantin Sekolah Tetap Laris di Tengah Program Makan Bergizi Gratis
Sebagai langkah antisipasi, BGN juga sudah mengeluarkan aturan agar sampel makanan yang disajikan dalam program MBG disimpan selama 2x24 jam.
Tujuannya adalah untuk mempermudah deteksi penyebab keracunan jika terjadi insiden serupa. Sampel makanan dari kejadian di Sukoharjo kini sedang diperiksa oleh dinas kesehatan setempat.